siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Selasa, 07 Februari 2012

PROPOSAL PTK

BAB I.
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa baru dipelajari atau dikuasai oleh siswa setelah ia menguasai tiga keterampilan berbahasa lainnya. Artinya, menulis merupakan keterampilan berbahasa terakhir yang dikenal dan dipelajari siswa.
Pembelajaran menulis sastra seyogianya menjadi pembelajaran yang dulce et utille, menyenangkan dan bermanfaat bagi siswa. Namun realitasnya, sebagian siswa memandang pembelajaran menulis sastra seolah-olah momok yang menakutkan. Mereka kebingungan kalau ditugasi hal-hal yang berhubungan dengan menulis sastra, misalnya menulis puisi.
Padahal berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VIII semester 2, terdapat standar kompetensi menulis sastra yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas. Kompetensi dasarnya adalah: kesatu, menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai; kedua, menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan.
Ketika PBM menulis puisi bebas dilaksanakan di dalam ruangan kelas, para siswa mengalami kesulitan karena susah untuk mendapatkan inspirasinya. Kemungkinan penyebabnya adalah terbatasnya ruang gerak mereka serta kejenuhan belajar karena PBM hampir selalu dilaksanakan di dalam kelas. Pembelajaran menulis puisi bebas pun tidak selesai dalam waktu dua kali pertemuan. Para siswa meminta menulis puisi bebas itu dilanjutkan di rumah. Hasilnya, sebagian mengumpulkan dan sebagian tidak. Puisi yang terkumpul pun setelah dievaluasi ternyata sebagian merupakan hasil plagiat, baik dari rubrik puisi media massa maupun dari buku-buku. Dan yang mengumpulkan pun hasilnya tidak begitu memuaskan. Hanya sebagian kecil saja yang hasilnya sudah baik. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan perlu tindakan yang serius dari guru.

Proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri siswa seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).
Masalah ini perlu segera dipecahkan karena pembelajaran menulis puisi bebas dipandang penting sebab berhubungan dengan apresiasi sastra, khususnya menulis teks sastra. Menulis teks sastra berarti memproduksi sastra. Hal ini berarti juga melatih siswa untuk mengeksplorasi segala kompetensi yang dimilikinya berdasarkan pengetahuan serta pemahaman kebahasaannya dan pengalamannya yang dapat dijadikan modal dasar  dalam menulis kreatif puisi. Dengan pembelajaran ini pula diharapkan kepekaan sosial siswa menjadi terasah.
Agar siswa dapat menciptakan teks sastra dengan baik, dalam hal ini penciptaan puisi, perlu suasana dan lingkungan yang mendukung serta dapat memberi inspirasi kepada mereka. Untuk keperluan tersebut, guru memodifikasi lingkungan belajar dengan cara mengajak siswa belajar di luar kelas atau berkaryawisata ke suatu tempat yang ada di lingkungan sekolah yang memungkinkan siswa terinspirasi untuk menulis kreatif puisi.
Masalah tersebut dapat dipecahkan dengan suatu penelitian tindakan yang dapat dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri. Penelitian tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil dengan mengubah cara, metode, pendekatan, atau strategi yang berbeda dari biasanya (Suharsimi Arikunto 2008 : 11).
Menurut Sarwiji Suwandi (1009 : 7-8) Banyak cara yang yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi atau memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas. Salah satu cara yang dipandang efektif adalah guru melakukan Penelitian Tindakan Kelas.
Oleh sebab itu, solusi yang tepat bagi permasalahan yang dihadapi, penulis dan kolaborator sepakat untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Penerapan Metode Karyawisata  Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Bebas  Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 3 Malangbong Garut Tahun Pelajaran 2009/2010.

B. Perumusan Masalah

1. Apakah penerapan metode karyawisata dapat meningkatkan motivasi  menulis puisi bebas siswa?
2.  Apakah penerapan metode karyawisata dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa?
C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan motivasi menulis puisi bebas siswa melalui penerapan metode karyawisata.
2.  Meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa melalui penerapan metode karyawisata.
D. Manfaat Penelitian

1.      Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi teori yang berkaitan dengan metode dalam pembelajaran puisi dan keterampilan menulis puisi bebas siswa.
2.      Manfaat Praktis
Bagi siswa, manfaat penelitian eksperimen ini adalah untuk mengetahui seberapa tinggi keterampilan menulis puisi bebas siswa setelah penggunaan metode karyawisata yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran.
Bagi guru bahasa Indonesia, manfaat yang dapat diperoleh melalui eksperimen ini adalah agar para guru dapat mengembangkan pembelajaran menulis dengan menggunakan metode-metode yang tepat sehingga diharapkan keterampilan menulis puisi bebas siswa dapat meningkat.
Bagi kepala sekolah, manfaat yang dapat dipetik melalui eksperimen ini adalah sebagai masukan dalam rangka mengefektifkan pembinaan kepada para guru agar dapat meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan jalan melakukan penelitian semacam ini.

 
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Kajian Teori

1.    Karya Sastra yang Baik
Retno Winarni (2009 : 24-25) mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga macam norma atau nilai yang menjadi ciri-ciri karya sastra yang baik, yaitu norma estetika, sastra, dan moral.

2.    Fungsi Karya Sastra
Kuntowijoyo (1981) dalam http://uj9.blogspot.com menyatakan adanya tiga fungsi sastra, yakni bahwa karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai fungsi sebagai cara pemahaman, cara komunikasi, dan cara kreasi . Apabila realitas itu berupaya peristiwa historis, karya sastra dapat: (1) mencoba menerjemahkan peristiwa itu ke dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarang; (2) karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah; dan (3) seperti juga karya sejarah,    karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarangnya.

3.    Karyawisata sebagai Inspirator Penciptaan Karya Sastra
Karyawisata merupakan salah satu kegiatan yang banyak digemari, terutama sekali oleh anak-anak. Hal ini karena kata karyawisata menurut asumsi mereka berarti main ke suatu tempat yang lain dari biasa dan pasti menyenangkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karyawisata adalah kunjungan ke suatu objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang (Depdikbud, 1997: 449).
Bila dicermati, begitu banyak karya sastra bermutu tinggi yang dihasilkan melalui karyawisata. Raja penyair angkatan Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang sempat berekreasi ke pantai-pantai di Jakarta, berhasil mempuisikan ”Teluk Jayakarta”. Setelah Idrus berkaryawisata ke sebuah pasar malam pada masa pendudukan Jepang, ia juga langsung menulis cerpen ”Pasar Malam Zaman Jepang”. Chairil Anwar (pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi) pun tak mau ketinggalan, ia jalan-jalan dari Kerawang hingga Bekasi ketika masa perang kemerdekaan dan terciptalah puisi ”Krawang-Bekasi”. Puisi ini diciptakannya sebagai tanda setia, meratapi kematian kawan-kawannya yang rela mati muda demi kepentingan tanah air, nusa, dan bangsa. Puisi ”Krawang-Bekasi” kini diabadikan dengan tinta emas di Monumen Yogya Kembali.
Sementara itu, Toto Sudarto Bachtiar (H.B. Jassin menjulukinya Penyair Ibu Kota Senja) yang gemar main-main di kota-kota besar seperti Jakarta, bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil, terbitlah puisinya yang begitu menggugah dan menyentuh, ”Gadis Peminta-minta”. Lain lagi dengan Ajip Rosidi yang khatam menyusuri semua daerah di Jawa Barat, ia mendapat inspirasi untuk mencipta puisi yang sarat akan kecintaan terhadap tanah kelahirannya, puisinya itu diberi judul ”Tanah Sunda”. Sementara itu, si Burung Merak dari Yogyakarta, W.S. Rendra, yang sering mondar-mandir ke Jakarta, berhasil mempuisikan ”Ciliwung yang Manis”. Demikian juga ketika ia melakukan perjalanan ke Banten, ia merasa terkesan dengan masyarakat di sana, maka terciptalah sebuah puisi ”Balada Orang-orang Rangkasbitung”.
Kesemua itu adalah contoh-contoh kecil saja dari sekian banyak contoh yang bisa diungkap sebagai bukti. Pendek kata, bahwa karyawisata bisa menginspirasi pengarang atau penyair dalam penciptaan karya sastra adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan.
Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Menurut Roestiyah (2001:85) dalam http://yastaki56.spaces.live.com/Blog, karyawisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Bagi guru, asumsi siswa mengenai karyawisata dapat dijadikan peluang yang baik karena karyawisata bisa saja diaplikasikan sebagai metode mengajar. Lebih lanjut para ahli tersebut berpendapat bahwa iklim belajar di kelas merupakan faktor yang berpengaruh langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap gurulah yang sangat menentukan iklim di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai adalah mengandung kebebasan memilih dalam satu disiplin; kesempatan untuk mempraktikkan kreativitas; interaksi kelompok; kemandirian dalam belajar; kompleksitas pemikiran; keterbukaan terhadap ide; mobilitas gerak; menerima opini; dan merentangkan belajar hingga ke luar ruang kelas. Untuk itu, guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai dari apa yang akan diajarkan, bagaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan, hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.
Dengan tegas, Wells (dalam DePorter et al., 2005: 29) menyatakan bahwa jika anak-anak diharapkan melakukan transisi dengan mudah dan percaya diri, mereka haruslah mengalami lingkungan baru sekolah sebagai sesuatu yang menggairahkan dan menantang.
Menurut Suwarna et al. (2006: 114), metode karyawisata merupakan cara yang dilakukan guru dengan mengajak siswa ke objek tertentu untuk mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Objek karyawisata adalah tempat atau objek tertentu yang memiliki nilai akademis, sehingga dapat difungsikan sebagai laboratorium, sebagai tempat untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang hal-hal yang memang benar-benar terjadi. Objek karyawisata tersebut antara lain: museum, bank, perusahaan, pasar, pengadilan, candi, pusat kerajinan, pelabuhan, pusat peninggalan, stadion, dan lain-lain.
Mengenai metode karyawisata (field-trip), Sujana (1991: 87-88) menyatakan bahwa karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Contohnya, mengajak siswa ke Balai Desa untuk mengetahui jumlah penduduk dan susunannya pada desa tersebut, selama satu jam pelajaran.
Jadi, karyawisata di atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour.
Adapun langkah-langkah pokok dalam metode karyawisata adalah sebagai berikut.
a.      Perencanaan karyawisata
b.      Langkah Pelaksanaan karyawisata
c.       Tindak lanjut

4.    Menulis Salah Satu Genre Karya Sastra: Puisi
Banyak cara untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Salah satunya adalah melalui puisi. Cara ini banyak diminati karena memiliki kelebihan dan keasyikan tersendiri.
Hal seperti itu tidaklah mengherankan karena dengan puisi itu selain memberikan kenikmatan seni, juga memperkaya kehidupan batin, menghaluskan budi, bahkan juga sering membangkitkan semangat hidup yang menyala, dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan (Pradopo, 2007: vi). Dengan bahasa yang simbolis, konotatif, dan padat, semua gagasan, inspirasi, pengetahuan serta hal lain dapat diungkapkan dengan singkat, padat, menarik, serta bermanfaat bagi pembaca.
Puisi adalah salah satu genre karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. Struktur fisik puisi terdiri atas (1) diksi atau pilihan kata, sangat penting dalam puisi karena akan menentukan makna, keindahan bunyi, dan irama. Kata dalam puisi (pada umumnya) bersifat simbolik; (2) pengimajian, adalah efek dari pikiran kata yang dapat mengungkapkan pengalaman batin sampai pada pengalaman konkret (nyata). Misalnya, pilihan kata ”berhati baja” menimbulkan efek pengimajian tentang sesuatu yang kuat, kokoh, dan luar biasa; (3) kata konkret, merupakan kata yang merujuk pada makna yang dapat diindra. Misalnya, pernyataan ”gadis kecil berkaleng kecil” lebih konkret dan menimbulkan efek pengimajian daripada pernyataan ”gadis miskin”; (4) bahasa kiasan atau figurative language, menyebabkan puisi menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup (Pradopo, 2007: 61 – 62).
Sedangkan struktur batin puisi terdiri atas (1) tema puisi, merupakan gagasan pokok yang akan dikemukakan penyair. Misalnya, ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme, demokrasi, keadilan sosial, keindahan alam, lingkungan, dan lain-lain; (2) rasa dalam puisi, adalah perasaan yang disampaikan penyair melalui puisinya. Misalnya, sedih, kecewa, haru, benci, rindu, cinta, kagum, bahagia, setia kawan, dan lain-lain; (3) nada puisi, ialah sikap batin penyair yang hendak diekspresikan. Misalnya, menasehati, mencemooh, sinis, berontak, iri hati, dan lain-lain. Nada dapat mewarnai suasana pembaca. Suasana yang dimaksud adalah suasana batin pembaca akibat membaca puisi; (4) amanat puisi, adalah maksud yang hendak disampaikan, himbauan, pesan, atau tujuan yang hendak disampaikan penyair.
Kalau pengajaran sastra mengarah pada apresiasi dan ekspresi, maka rasa bosan terhadap pelajaran bahasa Indonesia bisa terobati. Mereka akan lebih suka mendengarkan pembacaan karya sastra atau membuat sendiri karya sastra itu sesuai dengan kemampuan dan jenjang usianya daripada mempelajari teori-teori tentang sastra dan menghapalkannya.

B.  Kerangka Berpikir
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang harus dilatihkan guru kepada siswa. Mampu berbahasa berarti mampu memilih kata secara tepat untuk menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam lambang bahasa serta kata. Hal ini merupakan modal utama seseorang ketika menulis. Sayangnya, menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dipelajari siswa dan diajarkan guru sehingga tidak jarang ditemukan dalam pembelajaran menulis, guru lebih banyak memberikan teori menulis daripada praktik menulis.
Kompetensi dasar menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai dan menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan merupakan kompetensi dasar disampaikan di kelas VIII. Mengenai hal ini, dapat dikatakan bahwa para siswa kelas VIII/B sudah memiliki minat yang baik terhadap penulisan puisi. Hanya, bagaimana menciptakan puisi yang kaya akan pilihan kata yang sesuai, persajakan, serta keindahan bahasa lainnya, belum mereka pahami sepenuhnya. Mereka juga mengakui bahwa penulisan puisi di dalam kelas kurang bisa menghadirkan inspirasi karena keterbatasan ruang gerak. Mereka menginginkan pembelajaran menulis puisi dilakukan di luar kelas. Guru mitra yang bersangkutan pun sepakat dan mengakui adanya kondisi ini.
Atas dasar pertimbangan itulah maka penulis mengambil langkah yang dipandang tepat sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu melaksanakan pembelajaran menulis puisi bebas berdasarkan objek yang dapat diindera melalui pengaplikasian metode karyawisata.
Kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut :








 
         Keterangan :
                                   Hal yang diteliti
                                   Hal yang tidak diteliti
                                   Garis penelitian
                                   Garis bukan penelitian

Gambar 1. Kerangka Konsep
C. Hipotesis Tindakan
1. Penerapan metode karyawisata dapat meningkatkan motivasi menulis puisi bebas siswa.
2.  Penerapan metode karyawisata dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa.



 
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Malangbong Garut dan Pasar Malangbong Garut. Pemilihan tempat itu didasarkan pada pertimbangan (1) Nilai menulis puisi siswa rendah, (2) metode yang digunakan oleh guru kurang variatif, (3) Pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton, (4) Pasar tersebut adalah tempat yang diminati oleh seluruh siswa.
Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 3 bulan yaitu November 2009 sampai dengan Januari 2010. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah sebagai berikut : persiapan penelitian, koordinasi persiapan tindakan, pelaksanaan (perencanaan tindakan, monitoring dan evaluasi, dan refleksi), penyusunan laporan penelitian, seminar hasil penelitian, penyempurnaan laporan berdasarkan masukan seminar, serta penggandaan dan pengiriman laporan penelitian.

B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII/B. Seluruh siswa berjumlah 37 orang, terdiri atas 20 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.

C. Data dan Sumber Data
Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang proses pembelajaran menulis puisi, kemampuan siswa dalam menulis puisi, motivasi siswa dalam menulis puisi. Data penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi :
1.  Informan kunci yakni siswa dan guru;
2.  Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran menulis puisi;
3.  Dokumen atau arsip berupa Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hasil menulis siswa dan buku penilaian.


D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan untuk penelitian yang akan dilakukan ini dikumpulkan dengan tiga cara, yaitu:
1.    Pengamatan
Dilakukan oleh peneliti secara pasif. Dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Peneliti mengambil tempat duduk paling belakang. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data kondisi awal siswa dan efektivitas pelaksanaan tindakan.
2.    Angket
Angket diberikan kepada para siswa untuk mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas menulis. Angket ini diberikan dua kali, yaitu sebelum kegiatan penelitian tindakan dan pada akhir penelitian tindakan. Dengan menganalisis informasi yang diperoleh melalui angket tersebut dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kualitas proses kegiatan menulis siswa dan dapat diketahui ada tidaknya peningkatan motivasi siswa dalam menulis.
3.    Wawancara
Dilakukan setelah dan atas hasil kajian dokumen. Dilakukan antara peneliti dan guru. Wawancara dilakukan setelah melakukan pengamatan pertama terhadap kegiatan pembelajaran menulis puisi. Dari hasil wawancara tersebut akan dilakukan identifikasi permasalahan-permasalahan yang ada berkenaan dengan pembelajaran menulis serta faktor-faktor penyebabnya.
4.    Kajian Dokumen.
Dilakukan terhadap berbagai dokumen atau arsip yang ada, seperti Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hasil menulis siswa, buku atau materi pembelajaran, dan nilai yang diberikan guru
5.    Tes
Teknik ini digunakan untuk mengetahui kondisi awal siswa secara nyata pada kelas yang menjadi subjek penelitian.



E.         Teknik Pemeriksaan Validitas Data
Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data adalah triangulasi dan riview informan kunci. Teknik triangulasi yang digunakan adalah berupa triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data.
Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis puisi dan faktor-faktor penyebabnya, penulis melakukan hal-hal sebagai berikut : (1) Memberikan tes menulis puisi dan selanjutnya menganalisis hasil tulisan siswa untuk mengidentifikasi kekurangan dalam hasil tulisan mereka, (2) Melakukan wawancara dengan guru untuk mengetahui pandangan guru tentang hambatan-hambatan yang dialami  siswa dalam menulis puisi, fasilitas pembelajaran yang dimiliki dan yang tidak dimiliki, metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi.
1.    Teknik Analisis Data
Teknik yang dilakukan dalam analisis data adalah teknik deskriptif komparatif dan teknik analisis kritis. Teknik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan hasil antar siklus. Peneliti membandingkan rerata hasil sebelum penelitian dengan pada akhir setiap siklus.
Teknik analisi kritis mencakup kegiatan untuk mengungkapkan kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dalam proses belajar mengajar berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teoretis maupun dari ketentuan yang ada. Hasil analisis tersebut digunakan dalam menyusun perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Analisis data dilakukan bersamaan dan/atau setelah pengumpulan data.
2.    Indikator Kinerja
Indikator kinerja penelitian ini dikelompokkan ke dalam dua aspek, yaitu proses dan hasil.
a.    Proses
Seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran.
b.    Hasil
Seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa telah mencapai KKM yang telah ditetapkan (70).
c.    Prosedur Penelitian
Tahapan pelaksanaan Penelitian adalah sebagai berikut.
1)   Perencanaan
Sesudah masalah selesai dirumuskan, langkah berikutnya adalah perencanaan tindakan. Hal-hal yang bersangkut-paut dengan perencanaan tersebut adalah:
a)      Menentukan subjek penelitian, yaitu siswa kelas VIII B,
b)      Merumuskan alternatif tindakan yang akan dilaksanakan,
c)      Menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
d)     Menyiapkan media pembelajaran, dan
e)      Menyiapkan instrumen yang diperlukan.

2)   Pelaksanaan Tindakan
Siklus I
Pada siklus pertama ini  dilaksanakan  satu kali pertemuan atau 2 X 40 menit. Pada pertemuan tersebut dilakukan beberapa kegiatan yang dilangsungkan di dalam kelas, antara lain adalah:
a)      Guru dan siswa menyanyikan lagu yang puitis ”Saat Terakhir” yang dipopulerkan oleh ST 12, kemudian menganalisis syairnya dari segi keindahan bahasa yang dihubungkan dengan puisi. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menggugah minat siswa pada materi yang akan dipelajari.
b)      Siswa mencermati contoh-contoh puisi bebas.
c)      Siswa bertanya jawab tentang puisi yang meliputi larik, bait, rima, diksi, majas, orisinalitas, serta kesatuan makna puisi yang dibangun oleh larik dan bait.
d)     Siswa menyimak penjelasan dari guru mengenai hal-hal yang berhubungan dengan puisi.
e)      Siswa berlatih membuat larik-larik puisi (dua bait) tentang sebuah objek dengan menggunakan variasi rima, diksi, serta majas.
f)       Dua orang siswa menuliskan bait puisi hasil karyanya di papan tulis untuk dievaluasi bersama-sama dari segi tema, diksi, rima, majas, dan kesatuan makna.
g)      Siswa menyimak pembacaan salah satu puisi terbaik yang berhasil diciptakan.
h)      Siswa menyimpulkan hal-hal penting dalam penciptaan puisi.
i)        Guru memberi penguatan-penguatan berdasarkan kesimpulan siswa.
j)        Guru menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan berikutnya mereka akan diajak berkaryawisata untuk menulis puisi bebas.
Sewaktu kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung, peneliti berkeliling kepada setiap siswa sambil bertanya jawab, memberikan bantuan, serta arahan kepada mereka yang masih menemui kesulitan. Pada akhir kegiatan, siswa diberi penjelasan dan ulasan-ulasan berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukan. Sementara itu, observer senantiasa mengamati jalannya PBM, baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Hasilnya dituliskan pada format observasi yang telah disiapkan.



DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
DePorter, Bobby et al. 2005. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Rachmat Djoko Pradopo. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Retno Winarni. 2009. Kajian Sastra. Salatiga: Widya Sari Press.
Sarwiji Suwandi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta : Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13 FKIP UNS Surakarta.
Suharsimi Arikunto dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Suwarna dkk. 2006. Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis Menyiapkan Pendidikan Profesional. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Nana Sujana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
http://uj9.blogspot.com. Diunduh Senin, 16 November 2009
http://yastaki56.spaces.live.com/Blog. Diunduh Senin, 16 November 2009


Tidak ada komentar:

Posting Komentar