siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Selasa, 07 Februari 2012

PENGGUNAAN KATA SERAPAN DALAM TATA BAHASA INDONESIA


BAB I
Pendahuluan

1.1       Latar belakang

Sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia yang menggunakan bahasa yang tidak baku dalam kegiatan-kegiatan resmi atau menggunakan kata serapan yang salah,bahkan dalam penulisannya masih terjadi kesalahan penggunaan tanda baca,sehingga mengakibatkan kesalahan makna,padahal Pemerintah Indonesia telah membuat aturan-aturan resmi tentang tata bahasa baik itu kata serapan maupun penggunaan tanda baca. Pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya sudah diajarkan sejak dari Sekolah Dasar (SD) sampai ke perguruan tinggi tetapi kesalahan ini masih sering terjadi,bahkan berulang-ulang kali. Ketidak fahaman terhadap tata bahasa Indonesialah yang mengakibatkan orang-orang sering melanggar aturan resmi yang telah dibuat pemerintah tentang tata bahasa Indonesia.

Maka dari itu dalam makalah ini,Penulis akan memaparkan bagaimana tata bahasa yang benar tentang kata serapan sehingga kita memahami dan dapat menerapkan aturan berbahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam acara-acara resmi.


1.2       Maksud dan Tujuan
Tujuan dari makalah yang kami buat agar kita semua lebih memahami tentang tata bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dalam setiap komunikasi,kita akan dipermudah dengan adanya satu bahasa yang baku dan dapat dimengerti oleh setiap golongan masyarakat Indonesia serta mempermudah dalam mencari referensi.


1
BAB II
Pembahasan

2.1.Penulisan Kata Serapan

Kata serapan adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah,lalu digunakan dalam Bahasa Indonesia. Dilihat dari tarap penyerapannya ada 3 macam kata serapan. Yaitu:
1.      Kata-kata yang sudah sepenuhnya diserap kedalam Indonesia. Kata-kata ini sudah lazim dieja secara Indonesia,sehingga sudah tidak dirasakan lagi kehadirannya sebagai kata serapan. Misalnya kata-kata sabar,sirsak,iklan,perlu,hadir,badan,waktu,kamae,botol,dan ember.
2.      Kata-kata yang masih asing,tetapi digunakan dalam konteks Bahasa Indonesia. Ejaan dan pengucapannya masih mengikuti cara asing. Misalnya shuttle cock,knock out,time out,check in,door to door.
3.      Dalam kelompok ini termasuk kata-kata yang dipertahankan keasingannya karena sifat keinternasionalannya,seperti istilah-istilah music andante,moderate,adagio,dan sebagainya.
4.      Kata-kata asing yang untuk kepentingan peristilahan,ucapa dan ejaannya disesuaikan dengan kaidah-kaidah Bahasa Indonesia. Dan hal ini perubahan ejaan itu dibuat seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk bahasa aslinya. Misalnya aki (accu),komisi (commission),psikologi (psychology),dan fase (phase).
2.2.Kaidah Penyesuaian Ejaan Kata Serapan
Penyesuaian ejaan unsure serapan dilakukan dengan kaidah sebagai berikut:
1.      Aa menjadi a
Paal                                         pal
Octaaf                                     oktaf
2.      ae tetap ae, jika tidak bervariasi dengan e
aerobe                                      aerob
aerodynamics                          aerodinamika
3.      ae menjadi e jika bervariasi dengan e
            haemoglobin                           hemoglobin
            haematite                                hematif
4.      ai tetap ai
trailer                                       trailer
caisson                                     kaison
5.      au tetap au
audiogram                               audiogram
hydraulic                                 hidralik
6.      c di muka a, u, o dan konsonan menjadi k
cubic                                        kubik
crystal                                      kristal
coupe                                       kup
calomel                                    kalomel
7.      c di muka e, i, dan y menjadi s
central                                     sentral
cent                                         sen
circulation                               sirkulasi
8.      cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k
 accommodation                      akomodasi
 acclamation                            aklamasi
9.      cc di muka e dan i menjadi ks
accent                                      aksen
vaccine                                    vaksin
10.  ch dan cch di muka, a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin                                 sakarin
11.  ch yang lafalnya s atau sy, menjadi s
echelon                                    eselon
machine                                   mesin
12.  ch, yang lafalnya c menjadi c
china                                        cina
check                                       cek
13.  c (Sansekerta) menjadi s
cabda                                       sabda
castra                                       sastra
14.  e dan ee menjadi e
system                                     system
apotheek                                  apotek
15.  ea tetap ea
idealist                                     idealis
16.  ei tetap ei
eicisane                                    eikosan
einsteinium                              einsteinium
17.  eo tetap eo
stereo                                       stereo
geometry                                 geometri
18.  eu tetap eu
neutron                                    neutron
eugenol                                    eugenol
19.  f tetap f
factor                                       faktor
fossil                                        fosil
20.  gh menjadi g
sorghum                                  sorgum
21.   pada awal suku kata di muka vocal, tetap i
Ion                                           ion
Iota                                          iota
22.  ie jika lafalnya i menjadi i
politiek                                    politik
riem                                         rim
23.  ie tetap ie jika lafalnya bukan i
patient                                     pasien
carrier                                      karier
24.  kh (Arab) tetap kh
akhir                                        akhir
tarikh                                       tarikh
25.  ng tetap ng
congress                                  kongres
contingent                               kontingen
26.  oo (Belanda) menjadi o
komfoor                                  komfor
provoost                                  provos
27.  oo (Inggris) menjadi u
cartoon                                                kartun
proof                                       pruf
28.  oo (vokal ganda) tetap oo
coordination                            koordinasi
zoology                                   zoologi
29.  ou, jika lafalnya au, menjadi au
bout                                         baut
counter                                                kaunter
30.  ou, jika lafalnya u, menjadi u
coupon                                                kupon
2.3.Kaidah Penyesuaian Akhiran Asing
Akhiran-akhiran dari bahasa asing diserap sebagai bagian kata yang utuh. Jadi,. Kata seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping diserap juga kata standar, implement, dan objek.
Kaidah Penyesuaian akhiran asing adalah sebagi berikut:
1)      -aat menjadi –at
Advokaat                                     advokat
2)      -age menjadi –ase
Percentage                                    persentase
3)      -air, -ary menjadi –er
Primair, primary                            primer
4)      -ant menjadi –an
Informant                                     informan
5)      -archie, archy menjadi –arki
Monarchie                                    monarki
6)      -(a)tie, (a)tion, menjadi –asi, -si
Publicatie, publication      publikasi
7)   -eel, -aal, -el menjadi –al
       Structureel, structural                   structural
8)      -ein tetap –ein
       Protein                              protein
9)      -eur, or menjadi –ur
Directeur                           direktur
10)        -or tetap –or
            Dictator                                   dictator




2.4.Daftar Kata Serapan dari Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia Modern

Bahasa Sanskerta sudah ribuan tahun dikenal di Nusantara. Bukti tertua yang sekarang masih ada ialah prasasti-prasasti yang ada di Kutai, Kalimantan Timur dan kurang lebih berasal dari abad ke-4 atau abad ke-5 Masehi.
Karena keberadaan bahasa Sanskerta di Nusantara sudah lama, sudah tentu banyak kata-kata dari bahasa ini yang diserap dalam bahasa-bahasa setempat. Artikel ini membicarakan kata-kata serapan dalam bahasa Melayu tradisional dan dalam bahasa Indonesia modern.

Kosakata dasar

Karena sudah sangat lama dikenal di Nusantara, kata-kata Sanskerta ini seringkali sudah tidak dikenali lagi dan sudah masuk ke kosakata dasar. Oleh karena itu seseorang bisa menulis sebuah cerita pendek yang hanya menggunakan kata-kata Sanskerta saja. Di bawah ini disajikan sebuah cerita kecil terdiri dari kurang lebih 80 kata-kata dalam bahasa Indonesia yang ditulis hanya menggunakan kata-kata Sansekerta saja, kecuali beberapa partikel-partikel. Kata-kata Sanskerta di bawah dicetak tebal:
Karena semua dibiayai dana negara jutaan rupiah, sang mahaguru sastra bahasa Kawi dan mahasiswa-mahasiswinya, duta-duta negeri mitra, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata suami-istri, beserta karyawan-karyawati lembaga nirlaba segera berdharmawisata ke pedesaan di utara kota kabupaten Wonosobo antara candi-candi purba, berwahana keledai di kala senja dan bersama kepala desa menyaksikan para tani yang berjiwa bersahaja serta berbudi nirmala secara berbahagia berupacara, seraya merdu menyuarakan gita-gita mantra, yang merupakan sarana pujian mereka memuja nama suci Pertiwi, Dewi Bumi yang bersedia menganugerahi mereka karunia dan restu, meraksa dari bahaya, mala petaka dan bencana.

Penyesuaian fonologi

Fonologi bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu agak berbeda. Di dalam bahasa Sanskerta dikenal ada 7 vokal pendek dan 6 vokal panjang (secara teoretis ada 7 vokal panjang pula). Lalu ada 26 konsonan.
  • Vokal
  • Pendek:
  • /a/, /i/, /u/, /ṛ/, /ḷ/, /e/, dan /o/
  • Panjang:
  • /a:/, /I:/, /u:/, /ṛ:/, /ḷ:/, /ai/, dan /au/.
  • Konsonan
  • Letupan
  • /k/, /g/, /c/, /j/, /ṭ/, /ḍ/, /t/, /d/, /p/, /b/
  • Letupan yang disertai hembusan
  • /kh/, /gh/, /ch/, /jh/, /ṭh/, /ḍh/, /th/, /dh/, /ph/, /bh/
  • Sengau
  • /ng/, /ñ/, /ṇ/, /n/, /m/
  • Semivokal
  • /y/, /r/, /l/, /w/
  • Sibilan
  • /ś/, /ṣ/, /s/, /h/
  • Lain-lain
  • /ḥ/, /ṃ/

Dalam bahasa Melayu tidak ada permasalahan berarti dalam menyesuaikan vokal-vokal Sanskerta. Namun karena dalam bahasa Melayu tidak ada vokal panjang, maka semua vokal panjang berubah menjadi pendek.
Selain itu ada hal menarik dalam penyesuaian vokal /r/. Vokal ini sekarang di India dilafazkan sebagai /ri/ sementara zaman dahulu diperkirakan vokal ini dilafazkan sebagai /rə/ atau /'ər/, mirip seperti dalam bahasa Jawa. Inilah sebabnya mengapa nama bahasa Samskrta di Indonesia dilafazkan sebagai Sanskerta, tetapi di India sebagai Sanskrit. Dalam bahasa Melayu pada beberapa kasus vokal ini dilafazkan sebagai /ri/, namun pada kasus-kasus lainnya dilafazkan sebagai /'ər/. Selain itu kata-kata Sanskerta yang diserap dari bahasa Jawa seringkali juga memuat pelafazan /'ər/ atau /rə/.
Beberapa contoh:
  • Sebagai /ri/ -> “berita”, “berida”.
  • Sebagai /rə/ -> “bareksa”
  • Serapan dari bahasa Jawa /'ər/ -> “werda”
Kemudian perbendaharaan konsonan bahasa Melayu tidak sebanyak bahasa Sanskerta. Konsonan retrofleks tidak ada padanannya dalam bahasa Melayu sehingga disesuaikan menjadi konsonan dental. Lalu dari tiga sibilan dalam bahasa Melayu yang tersisa hanya satu sibilan saja, meski dalam huruf Jawi seringkali sibilan retrofleks atau palatal ini ditulis menggunakan huruf syin ش. Misalkan kata kesatria yang dalam bahasa Sanskerta dieja sebagai kṣatriya (kshatriya) dalam tulisan Jawi dieja sebagai کشتريا.
Lalu kasus menarik selanjutnya ialah penyesuaian konsonan yang disertai dengan aspirasi atau hembusan. Dalam bahasa Melayu seringkali hembusan ini juga dilestarikan. Sebagai contoh diambil kata-kata:
  • bhāṣa -> bahasa
  • chaya -> cahaya
  • phala -> pahala
Hal ini justru tidak dilestarikan dalam bahasa Nusantara lainnya, misalkan bahasa Jawa dan bahasa Bali. Di sisi lain nampaknya hal ini justru ada dalam bahasa Madura di mana aspirasi ini terlestarikan pula pada konsonan eksplosiva bersuara.
Kemudian semivokal /y/ dan /w/ pada posisi awal berubah menjadi /j/ dan /b/. Contohnya ialah kata-kata “jantera”, “bareksa”, “berita”, dan “bicara”.
Lalu anusvara /ṃ/ (/m./) dalam bahasa Melayu dilafazkan sebagai /ng/ atau sebagai sengau homorgan.


BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Begitu banyak kesalahan yang seringkali kita lakukan tentang penggunaan kata serapan dan tanda baca baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka dengan dibuatnya makalah ini pennyusun berharap kita dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.
Bangsa Indonesia memang banyak sekali mengambil kata-kata asing ataupun kata daerah Salah satu bentuk perkembangan bahasa Indonesia adalah berupa penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa-bahasa asing pemberi pengaruh. Begitu juga dengan penggunaan tanda-tanda baca. Karena dengan salahnya penggunaan tanda baca, maka akan menimbulkan makna ganda dalam kalimat tersebut.

 
DAFTAR PUSTAKA
            

             Arifin, Zaenal, 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress.
            Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Edisi Revisi.  Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar