siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Rabu, 04 April 2012

TATA BUNYI, TATA TULIS, TATA UCAP, MORFOLOGIS, DAN MORFOFONEMIS

oleh:
Dindin Syahbudin, M.Pd.

1.    Bunyi-bunyi bahasa yang terjadi akibat udara yang dihembuskan atau dihisap dan mendapat hambatan dengan berbagai cara dan dibedakan menjadi beberapa istilah dalam tata bunyi Bahasa Indonesia.
Huruf dalam tataran ini dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir. Huruf belum bermakna  sedangkan fonem sudah mampu membedakan makna. Fon merupakan suatu hasil bunyi dari alat ujar dan dalam proses menghasilkan bunyi tersebut dikenal kontoid dan vokoid. fonotaktik  mempunyai pola yang terkait dengan pola penyukuan kata  dan pergeseran bunyi menimbulkan variasi bunyi satu fonem yang sama. Berikut beberapa pengertian berikut contohnya.
a.    Huruf adalah aksara atau gambaran bunyi bahasa.
Contoh :
Huruf vokal    Cara pemakaian dalam kata
    Di awal    Di tengah    Di akhir
a
i
o
u
e*    ada
itu
onak
usaha
edan
elang    padu
dian
doa
dua
denah
seram    doa
mandi
kado
madu
pete
himne


Huruf Konsonan    Cara pemakaian dalam kata
    Di awal    Di tengah    Di akhir
k
s
l
h
n    kapan
saya
lisan
harap
nama    makan
insaf
malu
tahap
makna    kakak
harus
tolol
sudah
jalan

b.    Fonem adalah satuan yang terkecil yang terdiri  atas bunyi-bunyi ujar yang dapat membedakan arti.
Contoh : lari, tari, dari, jari, mari, sari, cari, dst.
fonem /l, t, d, j, m, s, c/ mampu menunjukkan terjadinya perbedaan makna, sehingga disebut fonem yang berbeda
c.    Fon adalah bunyi bahasa terkecil baik yang membedakan arti atau tidak membedakan arti. ( tahun – taun / ramai – rame / satai –sate / cabai –cabe)
d.    Kontoid adalah bunyi yang bagi pengucapanya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat-alat supra glotal.
Contoh:  [p] (papa), [t] (tata), [d] (dada
e.    Vokoid adalah bunyi yang bagi pengucapannya jalan mulut  tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya dan tanpa menyebabkan alat-alat supra glottal sebuahpun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian.
Contoh: [a] (apa),[e] (nenek), [e] (mepe) dalam Bahasa Indonesia berarti menjemur, [i] (ini).
f.    Kaidah fonotaktik adalah kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau  hubungan antara fonem-fonem suatu bahasa. Contoh: dalam perkembangan bahasa Indonesia mengizinkan jejeran /-nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih) /-st-/ (pasti); tetapi tidak mengizinkan jejeran     /-pk-/    /-pd-/  tidak ada morfem asli dalam bahasa Indonesia.
2.     Dalam proses pembelajaran di kelas adakalanya  kita menemukan permasalahan tata tulis dan tata ucap, penggunaan sebuah atau beberapa kata asing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia prinsip pengucapan antara tulisan dan ucapan harus sama sedangkan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris antara tulisan dan pengucapan banyak yang berbeda.
Untuk mengatasi hal tersebut  dilakukan dengan cara:
a.    Penyusunan kamus disertakan cara pengucapannya (transkrip fonetis)
b.    Pengucapan diusahakan antara tulisan dan ucapan sama dalam konteks bahasa Indonesia
c.    Kata asing digunakan jika dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padannya.
d.    Dalam pembelajaran senantiasa berpedoman pada kaidah penyerapan dan tata tulis serta memperhatikan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.
3.     Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis ada enam jenis (Kridalaksana 1988:5) yaitu:
1.    derivasi zero
Derivazi zero adalah proses leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Contoh leksem KITA menjadi kita tanpa perubahan apa-apa
2.    afiksasi
Afiksasi adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan penambahan afiks. Contohnya BAWA menjadi membawa. Ada beberapa jenis afiks, yaitu prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks.
3.    reduplikasi
Reduplikasi adalah proses perubahan leksem menjadi kata dengan cara pengulangan. Contoh RUMAH berubah menjadi rumah-rumah. Ada beberapa jenis reduplikasi di antaranya kata ulang utuh, kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang berubah bunyi.
4.    pemendekkan
Pemendekkan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan cara pemenggalan, konstraksi, akronim, dan penyingkatan. Contoh IBU menjadi bu.
5.    perpaduan
Perpaduan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata karena ada dua leksem tunggal bergabung menjadi kata. Contoh BUAH dan TANGAN menjadi buah tangan.
6.    derivasi balik
Derivasi balik adalh proses terbentuknya leksem menjadi kata. Proses ini sama dengan kejadian dalam afiksasi.

Proses morfofonemis adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemis dalam Bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks. Kalau kita berbicara mengenai morfem, maka kita berbicara mengenai satuan abstrak, sedangkan morf merupakan satuan yang lebih konkret daripada morfem, sedangkan di luar itu, fonem dan fon merupakan satuan yang lebih konkret lagi.
a.    Peristiwa Morfofonemis Pemunculan Fonem
1.    Pemunculan luncuran/y/      /ketinggiYan/ /tepiYan/
2.     Pemunculan luncuran/w/     /KepulauWan/
3.    Pemunculan luncuran/a/     /ayahanda/
4.    Pemunculan luncuran/n/     /seNdiri/
5.    Pemunculan luncuran/m/    /seMbarangan/
6.    Pemunculan luncuran/nge/     /pe NGE las/
7.    Pemunculan luncuran/ng/    /peNGgugat/
b.    Peristiwa Morfofonemik Pengekalan Fonem
Penggabungan morf tak terjadi perubahan apa-apa.
1.    Pengekalan fonem diawali /l,r,y,w/ melihat, pemula, penilai
2.    Pengekalan fonem bila berakhiran /a/  dan mendapat konfiks ke-an. kerajaan,  keadaan
3.    Pengekalan fonem terjadi bila berafiks ber-, ter-, per-, se-, wan,wati  bermain, terpukul, pertanda, searah wartawan, wartawati.
4.    Peristiwa Morfofonemik Pemunculan Dan Pengekalan Fonem
Mengkukur dan mengukur
c.    Peristiwa Morfofonemik Pergeseran Fonem
1.    pergeseran ke belakang      /bala-san, rambu-tan/
2.    pergeseran ke depan        /i-bunda, cu-cunda/
3.    pergeseran pemecahan suku kata akibat infiks  /ge-ri-gi,ge-me-tar/
d.    Peristiwa Morfofonemik Perubahan Dan Pergeseran Fonem
1.    Perubahan fonem /’/ menjadi fonem /k/  /menaiki,gerakan/
2.    Perubahan fonem /r/ berubah menjadi /l/ /belajar, pelajar, terlantar/
e.    Peristiwa Morfofonemik pelesapan fonem
1.    pelesapan fonem /h /dan /k/     /sejarawan, ananda/
2.    pelesapan fonem /r /        /peramal,bekerja/
f.    Peristiwa Morfofonemik Peluluhan Fonem
1.    peluluhan fonem /k/         /mengarang,pengiriman/
2.    peluluhan fonem /p/        /memakai, pemahat
g.    Peristiwa Morfofonemik Penyisipan Fonem secara Historis
Peristiwa ini apabila terjadi morfem dasr berasal dari kata asing mendapt afiksasi     / standardisasi,objektif/
h.    Peristiwa Morfofonemik pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
Pemunculan fonem karena mengikuti morfofonemik bahasa asing. /islami, duniawi, surgawi, alami/
i.    Peristiwa Morfofonemik Variasi Fonem Bahasa Sumber
Variasi fonem mengikuti pola bahasa sumber yang memiliki makna yang sama
Tunggal        = kritikus, politikus, alumnus
Jamak        = kritisi, politisi, alumni

(Universitas Negeri Yogyakarta, 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar