siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Rabu, 04 April 2012

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING
DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

(RIDWANNUDIN, M.Pd., SUPRIYONO, S.Pd., DINDIN SYAHBUDIN, M.Pd., BAREN BARNABAS, S.Pd.)

A.    Pendahuluan
Pendidikan di Indonesia ditengarai mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Keterbelakangan tersebut disebabkan hal-hal sebagai berikut.
a)    Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggara.
b)    Pembelajaran yang diselenggarakan bersifat pemindahan isi (content transmission). Tugas pengajar hanya sebagai penyampai pokok bahasan. Mutu pengajaran menjadi tidak jelas karena yang diukur hanya daya serap sesaat yang diungkap lewat proses penilaian hasil belajar yang artifisial. Pengajaran tidak diarahkan kepada partisipatori total peserta didik yang pada akhirnya dapat melekat sepenuhnya dalam diri peserta didik.
c)    Aspek afektif cenderung terabaikan.
d)    Diskriminasi penguasaan wawasan terjadi akibat anggapan bahwa yang di pusat mengetahui segalanya dibandingkan dengan yang di daerah, yang di daerah merasa lebih mengetahui dibandingkan dengan yang di cabang, yang di cabang merasa lebih mengetahui dibandingkan dengan yang di ranting, begitu seterusnya. Jadi, diskriminasi sistematis terjadi akibat pola pembelajaran yang subjek-objek.
e)    Pengajar selalu mereduksi teks yang ada dengan harapan tidak salah langkah. Teks atau buku acuan dianggap segalanya. Jika telah menyampaikan isi buku acuan, berhasillah dia.
Ketidakpuasan terhadap hasil pendidikan juga bisa kita cermati dalam puisi Seonggok Jagung di Kamar karya W.S. Rendra berikut ini.
Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda yang kurang sekolahan
memandang jagung itu
Sang pemuda melihat ladang
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari Subuh
para wanita dengan gendongan pergi ke pasar
Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung menjadi maizena
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala
di dalam udara murni tercium bau kue jagung

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan siap bekerja

Tapi ini
Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SMA
Tak ada uang
tak bisa menjadi mahasiswa
hanya ada seonggok jagung di kamar
ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
ia melihat dirinya ditendang dari diskotik
ia melihat dirinya sepasang sepatu knes di balik etalase
ia melihat saingannya naik sepeda motor
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal
Seonggok jagung di kamar
Tidak menyangkut pada akal
Tidak akan menolongnya

Seonggok jagung di kamar
Tak akan menolong pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh dengan hapalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tapi kurang mampu latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah-tengah kenyataan persoalan
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang ibu kota
Kikuk pulang ke daerahnya
Apakah gunanya seorang belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran
atau apa saja
Bila pada akhirnya
Ketika pulang ke daerahnya
Lalu berkata
“Di sini aku merasa asing dan sepi”

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kita tidak perlu saling menyalahkan.     Tapi jangan juga merasa tidak mempunyai masalah. Yang perlu dilakukan adalah mencoba membenahi kekurangan-kekurangan dalam setiap aspek. Sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, sedikit demi sedikit harus mulai dipenuhi. Guru yang masih bersikap tradisional, harus mulai inovatif dalam pembelajaran, siswa yang masih malas dituntut untuk meningkatkan motivasinya, dan sebagainya.
 Guru sebagai faktor dominan dalam pendidikan dituntut lebih inovatif. Bagaimana menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia nyata di sekitar peserta didik. Bagaimana mengaitkan ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat dimanfaatkan para siswanya dalam kehidupan sehari-hari. Kita sangat kagum dengan tokoh McGyver dalam sebuah film yang menunjukkan aplikasi pengetahuan yan dimilikinya untuk memecahkan masalah-masalahnya. Alangkah hebatnya jika pendidikan di Indonesia menciptakan  McGyver-McGyver baru dalam tingkatan yang sederhana sekalipun.
Salah satu model pembelajaran yang inovatif dan kreatif baru-baru ini diperkenalkan kepada masyarakat. Model tersebut bernama Quantum Teaching. Untuk memperkenalkan model ini, pemerintah telah mengirimkan buku rujukannya kepada setiap sekolah. Namun sayang, minat baca guru yang rendah menyebabkan model Quantum Teaching ini belum banyak dikenal secara mendalam. Buku yang dikirim pemerintah hanya sebagai pengisi lemari buku di perpustakaan.
Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk lebih mengenalkan Quantum Teaching. Bukunya yang sudah sangat operasional dikembangkan dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia. Melalui tulisan ini diharapkan guru bahasa Indonesia khususnya, dapat menggunakan Quantum Teaching sebagai alternative model pembelajaran yang digunakan.
B.    Teori Quantum Teaching
Quantum Teaching dikembangkan oleh Bobbie dePorter dan kawan-kawan yang dimulai di SuperCamp, sebuah pemercepatan Quantum Learning. Teori pendidikan yang melandasinya adalah Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder), Experiential Learning (Hahn), Cooperative Learning (Johnson and Johnson). Model ini mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar.
Asas utama Quantum Teaching adalah konsep  Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Asas ini mengingatkan kita pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Caranya dengan mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan sebuah peristiwa pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan para siswa. Setelah kaitan itu terbentuk, bawalah ke dunia guru dengan memberi siswa pemahaman tentang isi dunia ini. Akhirnya, dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan yang lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
Quantum Teaching memiliki lima prinsip yaitu 1) Segalanya berbicara, 2) Segalanya Bertujuan, 3) Pengalaman sebelum pemberian nama, 4) Akui setiap Usaha, dan 5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Prinsip-prinsip ini memengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching.
Quantum Teaching dibuat berdasarkan kerangka belajar yang dikenal sebagai TANDUR.


•    TUMBUHKAN
Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BAgiKU (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan pelajar.
•    ALAMI
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar
•    NAMAI
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi; sebuah masukan
•    DEMONSTRASIKAN
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”
•    ULANGI
Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini.”
•    RAYAKAN
Pengakuan utnuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. 

C.    Model Pembelajaran Quantum Teaching
Quantum Teaching dibagi menjadi dua seksi utama: konteks (context) dan isi (content). Konteks adalah latar untuk pengalaman. Konteks meliputi lingkungan yang mendukung, suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, dan rancangan belajar yang dinamis. Unsur-unsur ini berpadu dan kemudian menciptakan pengalaman yang menyeluruh. Seksi isi berkaitan dengan keterampilan penyampaian untuk kurikulum apa pun, di samping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari meliputi penyajian yang prima, fasilitasi yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
1.    Konteks
Konteks menata panggung belajar dan mempunyai empat aspek: suasana, landasan, lingkungan, dan rancangan. Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh kegembiraan membawa kegembiraan pula dalam belajar. Landasan adalah kerangka kerja : tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar. Lingkungan adalah cara guru menata ruang kelas: pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik-semua hal yang mendukung proses belajar. Rancangan adalah penciptaan terarah unsur-unsur yang penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi.
Jika keempat aspek ini ditata dengan cermat, suatu keajaiban akan terjadi. Konteks itu sendiri benar-benar menciptakan rasa saling memiliki, yang kemudian akan meningkatkan rasa memiliki dan penghargaan. Kelas akan menjadi komunitas belajar, tempat yang dituju para siswa dengan senang hati, bukan karena keterpaksaan.
a.    Suasana yang menggairahkan
Suasana menunjukkan arena belajar yang dipengaruhi emosi. Suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis. Bahan-bahan kunci untuk membangun suasana yang bagus adalah niat, hubungan, kegembiraan dan ketakjuban, pengambilan resiko, rasa saling memiliki, dan keteladanan.
b.    Landasan yang Kukuh
Seperti suasana, landasan yang kukuh berperan sebagai bagian penting dari komunitas belajar. Meskipun aspek-aspek setiap landasan bersifat unik dan individual sebagaimana uniknya tiap sekolah dan kelas, unsur-unsurnya tetap sama: tujuan yang sama, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sama, keyakinan kuat mengenai belajar dan mengajar, dan kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan peraturan yang jelas.
c.    Lingkungan yang Mendukung
Sebagaimana kita menyiapkan rumah untuk menyambut kedatangan tamu, lingkungan kelas harus dipersiapkan kedatangan siswa sebagai tamunya. Lingkungan yang ditata untuk mendukung belajar dapat berkata, “Belajar itu segar, hidup, penuh semangat. Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar. Lingkungan yang memacu belajar dan meningkatkan daya ingat siswa memiliki ciri: 1) lingkungan sekeliling yang menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, 2) alat bantu yang dapat mewakili suatu gagasan, 3) Susunan bangku yang dapat diatur ulang untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan, 4) Musik untuk menata suasana hati, mengubah mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar.
d.    Rancangan Pengajaran yang Dinamis
Rancangan pengajaran menjembatani jurang antara dunia guru dan dunia siswa dengan cepat dan alami setiap saat. Rancangan pengajaran memuaskan gaya belajar siswa, memanfaatkan serangkaian kecerdasan siswa, melejitkan motivasi siswa, dan menyiapkan mereka untuk meraih kesuksesan.
Pengajaran disesuaikan dengan modalitas visual, auditorial, dan kinestestetik. Meskipun kebanyakan orang memiliki akses ke ketiga modalitas, hampir semua orang cenderung pada salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan, dan komunikasi. Orang juga memanfaatkan kombinasi modalitas tertentu yang memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu. Semakin banyak modalitas yang dilibatkan secara bersamaan, belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat.
2.    Isi
  Dalam Quantum Taeching, isi mencakup presentasi (strategi dan teknik yang jelas untuk memastikan bahwa presentasi memiliki dampak), fasilitasi (siswa dan kurikulum disusun secara harmonis dan serempak), keterampilan belajar , dan keterampilan hidup. Keterampilan belajar dan keterampilan hidup ini memberi siswa ketajaman yang mendorong mereka menjadi pelajar quantum dan komunikator kuantum.
a.    Presentasi Prima
Presentasi prima disajikan oleh guru quantum dengan ciri-ciri: antusias, berwibawa, positif, supel, humoris, luwes, menerima, fasih, tulus, spontan, menarik dan tertarik, menganggap siswa “mampu”, menetapkan dan memelihara harapan tinggi. Seorang guru quantum mengajarkan keterampilan hidup di tengah-tengah keterampilan akademis, mendahulukan interaksi dalam lingkungan belajar, memerhatikan kualitas interaksi antarpelajar, antara pelajar dengan guru, dan antara pelajar dengan kurikulum.
Presentasi prima menggunakan prinsip komunikasi ampuh yaitu 1) munculkan kesan (perkataan yang menimbulkan asosiasi positif), 2) arahkan fokus (perkataan yang mengarahkan benak siswa pada asosiasi yang paling mendukung belajar), 3) inklusif (bersifat mengajak semua orang), 4) spesifik (tepat sasaran).
Presentasi juga didukung oleh komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal menggunakan kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok.  
b.    Fasilitasi yang Elegan
Sebagai seorang quantum teacher, guru menempatkan prioritas tinggi pada interaksi dalam lingkungan belajar Guru harus mengorkestrasi interaksi antara pelajar dan kurikulum. Caranya dengan mengetahui apa yang diinginkan sebagai hasil akhir. Mulai dengan visi yang jelas mengenai hasilnya. Dengan mengetahui hasil yang diinginkan secara jelas, guru akan mampu tetap pada jalur dan memudahkan kesuksesan siswa. Agar tetap berada pada jalur dan menjaga minat para pelajar, Gunakan KEG: Know what you want (ketahuilah yang Anda inginkan), Explain what you want (jelaskan yang Anda Inginkan); Get what you want (Dapatkan yang Anda Inginkan).
Memfasilitasi kesuksesan siswa dapat juga mengunakan strategi empat komponen yaitu 1) gambaran keseluruhan, 2) masukkan multisensory, 3) pemotongan menjadi segmen-segmen, 4) pengulangan sesering mungkin.
c.    Keterampilan Belajar
Dengan keterampilan belajar yang tepat, semua siswa dapat memahami sebagian besar informasi dalam waktu yang lebih singkat.Siswa belajar lebih cepat dan lebih efektif jika mereka menguasai keterampilan penting ini:
•    Konsentrasi terfokus
•    Cara mencatat
•    Organisasi dan persiapan tes
•    Membaca cepat
•    Teknik mengingat
Siswa juga dapat dikelompokkan dalam 3 gaya belajar yaitu tipe visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik. Untuk tipe visual pelajar didorong membuat banyak simbol dalam catatan mereka. Tipe auditorial lebih suka merekam pada kaset daripada mencatat. Mereka harus diperbolehkan berbicara dengan suara perlahan pada diri mereka sendiri. Pelajar kinestetik menyukai proyek terapan. Mereka suka belajar melalui gerakan.
Siswa perlu berlatih mencapai keadaan belajar terbaik melalui teknik SLANT dan Keadaan Alfa. SLANT singkatan dari Sit up in their chair, Lean forward, Ask Questions, Nod their head, Talk to their teacher. Teknik ini adalah cara siswa memperhatikan di kelas dengan mengatur keadaan mereka sendiri. Sedangkan teknik keadaan Alfa adalah kondisi konsentrasi yang santai. Diyakini, dalam keadaan Alfa siswa belajar dengan laju yang jauh lebih cepat. Kedua teknik ini mengembangkan sikap positif mengenai belajar. Siswa merasa santai dan terpusat, tidak tertekan dan cemas.
Siswa juga perlu menguasai teknik mencatat yang efektif yaitu peta pikiran dan Catatan:TS. Peta pikiran (mind mapping). Dengan peta pikiran, catatan yang dibuat membetuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topic utama di tengah dan sub topic dan perincian menjadi cabang-cabangnya. Catatan:TS singkatan dari catatan: Tulis dan Susun. Siswa mencatat baik fakta dari pelajaran maupun asosiasi, pikiran dan perasaan yang mengantarkan mereka ke perjalanan mental mereka.
 Quantum reading memanfaatkan kemampuan otak untuk menangkap beberapa kata sekaligus. Langkah-langkahnya adalah
    Jadilah pelajar yang ingin tahu
    Masuki keadan konsentrasi yang terpusat
    SuperScan
    Membaca
    Mengulang
Untuk memaksimalkan memori, guru harus membuat informasi bermakna. Biasanya siswa tidak mengingat informasi saat ujian karena informasi tak terlalu bermakna bagi mereka. Mengetahui apa pentingnya suatu informasi akan sangat membantu siswa mengingatnya.
d.    Keterampilan Hidup
Siswa harus dibantu mengembangkan keterampilan hidup. Siswa memperoleh kepercayaan diri, mempelajari cara-cara mengekspresikan diri, dan merasa bersemangat mengenai kemungkinan-kemungkinan potensi diri mereka. Ada satu set prinsip yang disebut 8 kunsi keunggulan yaitu
    Integritas: bersikap jujur, tulus, dan menyeluruh.
    Kegagalan awal kesuksesan: kegagalan hanyalah memberikan informasi yang dibutuhkan untuk sukses
    Bicaralah dengan niat baik: Berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawab untuk komunikasi jujur dan lurus
    Hidup saat ini: Pusatkan perhatian pada saat sekarang ini dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.
    Komitmen: Penuhi janji dan kewajiban.
    Tanggung jawab: bertanggungjawablah atas tindakan kita
    Sikap luwes da fleksibel: Bersikaplah terbuka terhadap perubahan dan pendekatan baru
    Keseimbangan: Jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa.
Strategi yang bisa digunakan untuk melatih keterampilan hidup misalnya adalah Hidup di atas garis, Open The Front Door, dan It’s All About My Relationship.”
D.    Penerapan Quantum Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Berikut ini kami sampaikan sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun dengan menerapkan prinsip-prinsip Quantum Teaching. RPP ini diharapkan memperlihatkan implementasi Quantum Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah        : SMP
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas, Semester    : VII, 2
Standar Kompetensi    : 16. Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi
Kompetensi Dasar    : 16.2  Menulis kreatif puisi berkenaan dengan peristiwa yang pernah dialami
Indikator    :          1)  Mampu menulis larik-larik puisi tentang peristiwa yang pernah dialami
        2)  Mampu menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik
Alokasi Waktu    :    2   X  40 menit ( 1 x pertemuan )

1. Tujuan Pembelajaran
    Setelah mengamati beberapa contoh puisi, siswa dapat menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik.

2. Materi Pembelajaran
    2.1 Penulisan puisi berkenaan dengan peristiwa yang dialami siswa

3. Metode Pembelajaran
    3.1 Quantum Teaching   

4. Langkah-langkah Pembelajaran
    1) Kegiatan awal
(1)    Guru menanyakan kondisi siswa dan menggairahkan suasana pembelajaran dengan yel-yel dan nyanyian ekspresif.
(2)    Siswa diberi teka-teki judul lagu dan grup band/penyanyinya yang disampaikan guru
(3)    Siswa menulis hasil teka-teki ( jawaban kelompok siswa).dan dirayakan hasilnya
(4)    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan manfaat kompetensi menulis puisi bagi siswa

.    2) Kegiatan Inti
(1)    Guru memilih salah satu lagu sebagai bahan pembelajaran (misalnya lagu Ungu)
(2)    Guru dan siswa mengomentari salah satu lagu Ungu “Dengan Nafasmu”
(3)    Guru dan siswa mengaitkan larik syair “Dengan nafasmu” dengan pengalaman nyata
(4)    Siswa mengidentifikasi berbagai peristiwa berkesan yang pernah dialami yang paling berkesan
(5)    Siswa menunjukkan hasil identifikasinya berupa pengalaman yang paling berkesan.
(6)    Siswa memilih salah satu peristiwa yang dialami untuk dijadikan bahan puisi (Tentukan pengalaman sebagai bahan puisi)
(7)    Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi. Siswa dikelompokkan dengan nama kelompok grup band favoritnya.
(8)    Kelompok siswa diberi kartu kata dan diajak berlomba mengembangkan satu kata yang berpotensi dijadikan sebagai larik puisi. (Ambil kata kunci yang berhubungan dengan pengalaman)
(9)    Kelompok siswa mempresentasikan hasil kerjanya.
(10)    Kelompok  siswa memberikan komentar dan menunjukkan manfaat kata kunci
(11)    Kelompok siswa kembali berlomba mengembangkan kartu kata menjadi puisi. (Buat Larik puisi menggunakan kata-kata kunci yang telah dikembangkan)
(12)    Kelompok siswa kembali mendiskusikan hasil kerjanya (Lengkapi larik puisi dengan unsur Instrinsik)
(13)    kelompok penyaji menampilkan puisinya dan kelompok lain menanggapinya. (Evaluasi puisi bersama kelompok lain)
(14)    Kelompok siswa memajang hasil karyanya di papan tempel kelas. (Tampilkan hasil pekerjaan yang telah dievaluasi)
(15)    Salah seorang siswa membacakan hasil karya puisi kelompoknya
(16)    Guru memberikan penguatan terhadap hasil karya kelompok.
(17)    Guru dan siswa merayakan  keberhasilan TABLET dengan  yel-yel.

         3) Penutup
(1).   Guru bersama-sama dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar
(2)    Guru menutup kegiatan ini dengan kesenangan rumah berupa membuat puisi lain secara individual.

5. Media / Sumber Pembelajaran
    5.1 Beragam contoh puisi
    5.2 Peristiwa yang dialami siswa
    5.3 Buku teks
    5.4. Gitar
    5.5 Syair lagu
    5.6 kartu kata

6. Penilaian.
    a. Teknik              : tes unjuk kerja
                        portofolio
    b. BentukInstrumen    : Uji petik kerja produk
                                            Dokumen puisi
    c. Soal/Instrumen

A.    Peniliaian Hasil/ Produk

1.    Mari kita tulis puisi tentang peristiwa berkesan yang kamu alami dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik
          
Aspek    Deskriptor    Skor
Kreatifitas isi


Kreatifitas Bahasa


Kreatifitas


Nilai    Ide atau gagasan yang ditampilkan unik dan otentik (tidak menjiplak pilihan orang)

Gagasan yang disajikan bahasa yang penting dan unik

Ide yang dimunculkan menarik. Bahasa yang digunakan bervariasi/tidak monoton

Puisi yang ditulis memuat nilai yang dapat digunakan sebagai sarana refleksi/perenungan    0-10


0-10


0-10


0-10
      
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut:

        Perolehan skor
Nilai akhir =     X skor (100) Ideal= ............................

        Skor maksimum

2.    Pajanglah puisi tentang suatu peristiwa yang Anda tulis !

B.    Penilaian Proses.
    - Amati aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan format pengamatan berikut.

N a m a    Partisipasi    Motivasi    Kerja sama    Inisiatif
Andi    V ( baik )    V    V    V
               
               
               

       Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut:

        Perolehan skor
Nilai akhir =     X skor (100) Ideal= ............................

        Skor maksimum



    ........, ...........................
Mengetahui,                                                                                                                                                                                         
Kepala                                                                                                 Guru Mata Pelajaran




...........................                                                                              ………….…………........
    NIP                                                                                               NIP.





E.    Penutup
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan.  Tugas guru adalah mengenali dan mempelajari berbagai model itu untuk diterapkan sebagai alternative model pembelajaran yang semakin memperkaya dan mencerdaskan guru. Model Pembelajaran Quantum Teaching menunjukkan berbagai kelebihan dalam menggairahkan proses pembelajaran menuju pencapaian hasil yang optimal. Perlu ketekunan dan konsistensi para guru untuk menerapkan model pembelajaran ini terutama untuk mencoba memperluas zona kenyamanannya.
Namun, guru harus pandai-pandai memilih dan memilah berbagai model pembelajaran semata-mata demi terciptanya sebuah pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan seperti yang diidealkan dalam dunia pendidikan. Dan kinilah saatnya kita, para guru, mencoba menerapkan berbagai model pembelajaran itu dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemudian kita akan berteriak “Hore, aku bisa!”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar