siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Rabu, 04 April 2012

RPP DAN JABARAN PROGRAM TRANSFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN BUDAYA DI SEKOLAH

RPP DAN JABARAN PROGRAM TRANSFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN BUDAYA DI SEKOLAH


Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Pedagogik Transformatif
Dosen DR.Tadkiroatun Musfiroh, M. Hum.


Oleh :
Dindin Syahbudin, M.Pd.


A.     RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah    :    SMP Pedagogik Transformatif
Mata Pelajaran    :    Bahasa Indonesia
Kelas/Semester    :    VII/1
Standar Kompetensi    :    7    Memahami isi berbagai teks bacaan  dengan membaca.
Kompetensi Dasar    :    7.2  Menyimpulkan isi teks bacaan yang dibaca.
Indikator    :    (1)  Siswa mampu menentukan tema  teks bacaan yang akan disimpulkan.
(2) Siswa mampu menyimpulkan teks bacaan dengan bahasa sendiri.
Alokasi Waktu    :    2 x 40 menit (1 x pertemuan)

1.    Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menyimpulkan isi teks bacaan tentang budaya yang dibaca.
2.    Materi Pembelajaran
Cara menentukan tema  dan menyimpulkan isi teks bacaan tentang budaya yang diambil dari internet.

Rumah Adat Sunda yang Sakral
Senin, 12 Mei 2008
Bangunan bercat putih yang terbuat dari bilik bambu itu sepintas seperti tidak terurus. Pohon-pohon bambu tinggi, sarang laba-laba, dan guguran daun kering memenuhi jalan setapak menuju bangunan tersebut. Masyarakat di Desa Lebakwangi Batukarut, Kec. Arjasari, Kab. Bandung menyebutnya Situs Bumi Alit Kabuyutan atau rumah adat Sunda. Situs berusia ratusan tahun ini dipercaya memiliki daya magis untuk mengabulkan setiap permohonan bagi siapa saja yang semedi di dalamnya.
    Sang juru kunci situs tersebut, H. Enggin Wasya Sasmita (85) menceritakan, di dalam kamar Bumi Alit Kabuyutan terdapat benda-benda pusaka yang memiliki kekuatan gaib, seperti keris, pedang, dan tombak. Benda-benda ini dikeluarkan dan dicuci dengan air kelapa saat Maulid Nabi Muhammad saw. Selain itu, di kamar itu juga sebagai tempat menyimpan berbagai sesaji yang dibawa peziarah.
    Setiap malam Kamis dan Senin ada peziarah yang datang untuk bersemedi. Rata-rata mereka datang dengan segala masalah dan kesusahan, seperti masalah rumah tangga, jodoh, atau ingin usahanya lancar. Mereka membawa sesaji berupa kopi pahit, telur ayam kampung, kelapa muda, ketan, dan lain-lain, ungkap Enggin yang menjadi generasi ke-14 untuk menjaga situs tersebut.
    Menurut dia, yang datang bersemedi rata-rata berusia 20 sampai 60 tahun, laki-laki dan perempuan. Selama dua hingga empat malam, mereka bersemedi sendiri, tanpa keluar Situs Bumi Alit Kabuyutan. Tidak makan dan minum karena konsentrasi berdoa, salat, dan zikir kepada Sang Khalik agar keinginan hati tercapai.
    Ia berpendapat, bersemedi di Situs Bumi Alit Kabuyutan bukanlah kegiatan yang musyrik karena pada intinya mereka memohon kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk gaib atau sejenisnya. Benda-benda sesaji yang disyaratkan tersebut memiliki makna filosofis tertentu yang mendukung kegiatan semedi.
    Situs Bumi Alit Kabuyutan merupakan cagar budaya yang tidak dijadikan objek wisata. Situs ini tidak dijadikan objek wisata, nanti terlalu ramai dan tidak tertib lagi, dan kesakralannya hilang. Kalau mau semedi saja yang bersangkutan harus puasa dulu dan ada ’permisi’-nya untuk masuk ke dalam rumah.
    Ia menjelaskan, situs biasanya ramai saat Mauludan karena ada upacara khusus. Akan tetapi, para peziarah yang ingin bersemedi dapat terus datang. Mereka biasanya tahu dari orang-orang yang pernah datang. Enggin dan masyarakat di Ds. Lebakwangi Batukarut sama-sama menjaga kelestarian situs ini. Kami ingin tetap menjaga nilai-nilai tradisi, budaya, dan seni yang terkandung dalam Situs Bumi Alit Kabuyutan ini. Ini adalah warisan leluhur.

3.    Metode Pembelajaran
a.    Pemodelan
b.    Tanya jawab
c.    Diskusi
d.    Inkuiri
e.    Demonstrasi
4.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Skenario Pembelajaran
Guru masuk kelas dan menyampaikan salam. Setelah membuka pembelajaran, guru memberikan apersepsi dan memberi keyakinan akan kebermaknaan serta kemanfaatan ilmu untuk pengetahuan dan bekal di masa depan.
Siswa diatur dan dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang. Masing-masing kelompok ditentukan tugas dan kewajibannya.
Guru bercerita tentang adat dan kebudayaan di Indonesia. Siswa menjawab pertanyaan guru tentang adat, budaya serta kebiasaan yang berlangsung di dalam kehidupan sehari-hari siswa.. Siswa yang menjawab benar, diberi reward oleh guru sebagai tanda penghargaan atas keberanian dan prestasinya.
Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang bagaimana menentukan tema dan menyimpulkan sebuah teks bacaan yang ditampilkan melalui media presentasi. Sesekali guru bertanya dan mengarahkan konsentrasi siswa terhadap materi pembelajaran.
Masing-masing kelompok diberi teks bacaan yang sama yaitu Rumah Adat Sunda yang Sakral. Siswa secara kelompok mendiskusikan cara menentukan tema dan menyimpulkan sebuah teks bacaan.
Setelah semua kelompok selesai melaksanakan diskusi kelompok, guru membimbing siswa melaksanakan diskusi kelas. Siswa mengikuti jalannya diskusi kelas dengan antusias dan menanggapi laporan kelompok lain.
Guru melakukan penilaian proses dan hasil pembelajaran dengan cermat. Penilaian proses yang dilakukan guru adalah dengan mengamati siswa baik individu maupun kelompok dalam melakukan kegiatan belajar, terutama dalam melakukan diskusi kelompok dan diskusi kelas. Penilaian Hasil adalah penilaian terhadap hasil diskusi berupa tulisan siswa yang berisi jawaban atas perintah yang disampaikan guru.
Guru memberi reward kepada kelompok diskusi yang terbaik dan merayakannya di depan kelas. Kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi dipanggil ke depan kelas dan diumumkan sebagai keompok terbaik serta diberi hadiah sebagai penghargaan dan untuk memberi motivasi dalam mengikuti pembelajaran berikutnya. Siswa yang lain diminta untuk memberi selamat dan memberikan tepuk tangan. Setelah itu hasil siswa terbaik berhak untuk dipajang di papan pajangan kelas.
Siswa menerima tugas individu untuk mencari sebuah teks bacaan tentang budaya dari sumber lain lalu menentukan tema dan menyimpulkannya. Sumber lain yang dimaksud adalah surat kabar, majalah, tabloid dan sebagainya. Tugas individu tersebut dilakukan oleh siswa di rumah dan dikumpulkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia berikutnya.
Guru menutup pembelajaran dan memberi penguatan tentang materi dan kebermaknaannya dalam hidup. Dalam mengarungi kehidupan jika tidak disertai dengan ilmu pengetahuan akan mendapatkan kesulitan.


5.    Media dan Sumber belajar
a.    Media: Laptop, LCD, CD berisi Power Point materi pembelajaran
b.    Sumber Belajar : Buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas VII untuk SMP/MTs Karangan Nurhadi dkk. Penerbit Erlangga tahun 2002
c.    Internet http://www.kabupatenbandung.go.id.
d.    Perpustakaan

6.    Penilaian
a. Teknik             : Penugasan
b. Bentuk instrumen    : Unjuk Kerja
c. Soal/Instrumen        :
1. Tentukan tema dari teks bacaan yang dibaca !.
Pedoman Penskoran
No    Kegiatan     Skor
1
2        Siswa menentukan tema dari teks bacaan yang dibaca
    Siswa tidak mengomentari    5
0
    Jumlah     5
2. Bagaimana kesimpulan mengenai cerita yang baru saja kamu baca?

Rubrik Penilaian
No    Kegiatan     Skor
1
2        Siswa menyimpulkan teks bacaan yang dibaca.
    Siswa tidak menuliskan apa-apa    5
0
    Jumlah     5

Skor maksimal
No. 1) = 5      No. 2) = 5   Jumlah = 10
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut.
    Perolehan Skor           
Nilai akhir =    ------------------------    X    Skor Ideal (100)    =   .  .  .
    Skor Maksimum           
B.     JABARAN PROGRAM TRANSFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN BUDAYA DI SEKOLAH.
Indonesia adalah salah satu Maha Karya Allah SWT. atas bumi yang kita cintai. Keanekaragaman berbagai hal menyakini kita akan keagungan-Nya. Bahasa dan budaya yang ada di Indonesia khususnya merupakan dua hal yang dianggap penting dalam kehidupan kita.
Budaya sebagai warisan nenek moyang suatu bangsa harus dikenalkan kepada anak didik kita sebagai pewaris bangsa. Pengenalan budaya tersebut merupakan salah satu aspek pendidikan dalam upaya pengetahuan dan pewarisan aset bangsa.
Pewarisan budaya nenek moyang kepada pewaris awalnya bersifat konvensional. Biasanya pihak orang tua memberikan petuah berupa cerita tentang adat dan budaya leluhur dalam bentuk lisan. Anak-anak akan menerima pewarisan budaya tersebut secara konvensional pula. Mereka memahami budaya leluhur dalam taraf mengetahui saja dan untuk diwariskan lagi kepada anak-anak mereka kelak.
Cara konvensional tentunya sangat tidak tepat, karena kemungkinan adanya kesalahpahaman dan berkurangnya informasi sangat banyak. Pemahaman tentang budaya akan banyak bergeser bahkan berubah karena ketidaktepatan metode penyampaian.
Siswa perlu belajar tentang budaya berdasarkan pengalaman langsung agar pemahaman tentang budaya dapat melekat dan utuh dalam pikiran siswa. Upaya tersebut sejalan dengan prinsip ”Learning by doing” yang dikemukakan oleh John Dewey.
Siswa langsung terlibat dalam pembelajaran tentang budaya. Mereka mengamati, mencari dan memecahkan masalah tentang materi budaya dalam pembelajarannya. Dengan demikian pemahan budaya akan melekat erat dalam pemikiran siswa serta dalam keadaan utuh tanpa pengurangan dan pengaruh budaya asing.
Sekolah adalah tempat siswa belajar segala sesuatu hal. Tempat mentransfer berbagai ilmu pengetahuan. Di tempat ini siswa menerima berbagai ilmu untu hidup dan kehidupannya di masa depan. Disinilah tempatnya guru untuk mengubah paradigma lama tentang pewarisan budaya.
Dalam pembelajaran di kelas siswa, dengan bimbingan guru, metode yang sesuai, sarana dan prasarana yang lengkap, akan mencari sendiri materi tentang budaya. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa pusat belajar bukan pada pendidik atau semata-mata pada peserta didik, atau organisasi pendidikan tetapi pada keseluruhan konstituen dari proses pendidikan itu dari pusat sampai ke pinggiran tidak terabaikan (Tilaar dalam Musfiroh, 2008 : 2).
Budaya, berdasarkan pedagogik tranformatif, harus disampaikan kepada siswa dengan proses, cara, atau kegiatan pengubahan sikap dan tata laku seseorang sebagai upaya pendewasaan mereka melalui pelatihan dan pengajaran yang terpadu dan terprogram dengan baik. Karena Pedagogik transformatif merupakan proses mentransformasikan ke arah yang lebih baik,  karena bagaimanapun tingkah laku seseorang di dalam habitatnya merupakan hasil dari proses pendidikan.
Dalam RPP di bagian A, Penulis mencoba menyesuaikan antara materi tentang budaya dengan metode pembelajaran yang kontekstual. Pemilihan metode pemodelan, tanya jawab, diskusi, inkuiri, dan demonstrasi adalah alasan bahwa rencana pembelajaran yang tertulis merupakan salah satu upaya pedagogik transformatif dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar.
Metode yang disampaikan dalam pembelajaran harus benar-benar tepat karena ada hubungannya dengan pengorganisasian siswa dalam belajar. Selain itu harus diperhatikan pula model pembelajaran yang diinginkan agar hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan maksimal (Bahri, dkk., 1995)
Model dan metode pembelajaran dalam RPP yang disampaikan mengacu pada teori karakteristik Contextual Teaching and Learning (CTL) Elaine B. Johnson (2006), yakni : adanya kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar yang bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber,  siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding dan lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta gambar, artikel, humor dll, laporan kepada orang tua bukan hanya laporan pendidikan tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Dalam Depdiknaas (2002), dikemukakan salah satu komponen utama CTL adalah Learning Community (masyarakat belajar) yaitu : 1) Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar; 2) Bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri; 3) Tukar pengalaman; dan 4) Berbagai ide.
Salah satu metode yang dipilih dalam pembelajaran tersebut adalah diskusi. Dalam metode tersebut siswa dituntut untuk tanya jawab dan bekerja sama dalam mencari jawaban atas materi yang disampaikan. Hal ini sesuai dengan prinsip Cooperative Learning (CL) yakni siswa saling bergantung satu sama lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 2007).
Model CL tidak sama dengan sekedar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan (Lie, A., 2007).
Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, guru dalam membentuk kelompok diskusi siswa dengan benar. Siswa dituntut untuk menemukan materi pembelajaran (inquiry) dengan metode yang disediakan. Karena menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri (Depdiknas, 2002).
Siswa akan diminta langsung mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelpmpok kooperatif (PSMS, 2002).
Yang menjadi landasan pembelajaran budaya dalam RPP tersebut adalah :
a.    Dalam KBM siswa dipandang sebagai manusia yang sedang dalam proses menjadi manusia yang seutuhnya;
b.    Peserta didik merupaka manusia sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain dan dengan sejarah manusia sebelumnya;
c.    Siswa sebagai subjek belajar yang memiliki karakteristik, gaya belajar, dan minat terhadap berbagai hal yang apabila digali, potensi-potensi tersebut akan bermanfaat bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat;
d.    Siswa dihargai dan dipercaya sebagai peserta didik yang berhak mewujudkan kemampuannya dan ikut berpartisipasi sebagai penggerak budaya atau perubahan bagi masyarakatnya. (Musfiroh, 2008 : 3).
Guru sebagai mitra pembelajar berkewajiban membantu dan memfasilitasi kegiatan belajar siswa guna mencapai hasil belajar yang maksimal. Bantuan dari guru tersebut berupa upaya, strategi dan metode serta kesempatan yang optimal bagi siswa dalam menyerap berbagai materi ilmu pengetahuan.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semuanya dalam upaya menjadikan siswa sebagai subjek yang benar-benar memiliki potensi untuk mengubah dari tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahui banyak hal tentang apa-apa.
Semoga...........




DAFTAR PUSTAKA


Bahri Djamarah, Syaiful, dkk. 1995.  Strategi Belajar mengajar.  Jakarta : Rineka Cipta.
Depdiknas, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga). Jakarta : Balai Pustaka.
Depdiknas, 2002. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta : Balai Pustaka.
http://www.kabupatenbandung.go.id.
Johnson, Elaine. 2006. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikan dan Bermakna. Bandung : Mizan Learning Center.
Lie, Anita. 2007. Cooperative Learning : Mempraktikkan Cooperative learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.
Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Pedagogik Transformatif. Bahan Kuliah. Tidak diterbitkan.
Pusat Sain Matematika Sekolah. 2002. Pembelajaran Kooperatif. PPS UNESA.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar