siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Rabu, 04 April 2012

PUISI-PUISI KOE.............

Debur

Ombak berdebur
Berbaur dengan kengerian hati
Ombak terus berdebur
Tak peduli meski kengerian semakin menjadi
Hidup berdebur
Berbaur dengan kegetiran di hati
Tetap harus kita jalani
Dengan langkah-langkah yang nanti kan datang lagi sendiri
Mendapati apa yang telah kita isi
Dalam hidup setelah hidup
(Pantai Depok Yogyakarta, 2008)



Lilis Sang Lutung Kecil

Lemah dan ketakutan
Ketika kuraih dalam dekapan
Lahap dan lapar
Ketika kusuapkan sendok demi sendok kecil susu hangat
Matanya menatap
Harapan
Tertuju pada mataku yang beda
Dari mata hitam dan sejuk selama ini
Bulu kuningnya
Tanda muda dari hitam tatkala dewasa
Matanya brharap
Dan melemah lalu tidur pulas
Dalam gendongan
Lilis sang lutung kecil kuberi nama
Yang ibunta tertembak saat perburuan
Waskom dan kail hangat pel butut
Kini sebagai penganti pelukan hangat ibunya
Yang dipaksa meninggalkannya dengan timah panas dikepalanya

( Cilampuyang Garut Okt. 2008)



Lima Ratus Perak

Lelaki buta tua renta
Datang menghampiriku
Terseok hampir terjatuh
Oleh guncangan keras kereta ekonomi malam
Menghampiri semua deretan kursi-kursi
Termasuk kursi tempat panasnya pantatku
Siksaan perjalanan 9 jam Garut-Jogjakarta
Tangan tengadah meminta
Demi perut dan mungkin anak istrinya
Doa mengalir deras
Selamat dunia akhirat serta
Tertegun aku dalam penyesalan
Mengapa harus lima ratus perak
Tuk ditukar dengan doa bahagia yang mulia
(kereta ekonomi 'Kahuripan' 2008)



Galau

Teduh haru rindu
Mata beningmu
Berat rasa dan raga
Meninggalkanmu
Meninggalkan peluk dan peluh binalmu
Yogyakarta dalam bayang masa depan
Kutuju dengan sembilan jam masa
Dalam guncangan dan panasnya kereta kahuripan
Melayang sukma tak beraturan bimbang
Antara istri anak-anaknya
Para kekasih hati
Yang harus jauh dalam dekapan
Dengan secarik sertifikasi yang masih jauh dalam harapan
Tetes air mata dalam doa
Lindungi dan hangatkan mereka kekasih hati
Seperti sang kabut menyelimuti stasiun Cipeundeuy malam ini
(Cipeundeuy, Oktober 2008)



Pilihan

Hidup
Karang terjal
Sutra halus
Duri menoreh kulit perih
Titian nada indah
Hidup
Aturan kewajiban
Akhir hidup
Keabadian dalam suka atau nestapa
Hidup adalah pilihan
(Gang Narada Gejayan Yogyakarta, 2008)







Arti Sang Lilin 

Lilin putih
Kusulut
Terang
Kutiup
Gelap
( Cilampuyang Garut Okt. 2008)




Tidak Tahu

Aku duduk tertegun
Di depan komputer sebuar rental
Di gang guru Mrican
Lama kupandang layar
Pikiranku meracau
Tidak tahu apa yang harus kutulis
Sudah delapan dari sepuluh puisi instan
Tugas puisi kubuat
Itupun tidak tahu
Baikkah, burukkah
Kini puisi kesembilan harus kubuat
Aku sudah betul-betul tidak tahu
Apa dan mulai dari mana
        (Gejayan Yogyakarta, Oktober 2008)




Harus Tahu

Ku tahu dirimu tahu
Aku
Ku sadar dirimu sadar
Pasanganmu
Ku tahu dirimu tak tahu
Hatiku
Ku sadar dirimu tak sadar
Bagaimanaku
Tapi kau harus tahu
Bahwa aku harus jadi bagianmu
Dalam hidupmu hidup kita
Dalam matimu mati kita
Kau harus tahu
       ( Cilampuyang Garut Okt. 2008)


by: Dindin Syahbudin, M.Pd.
Universitas Negeri Yogyakarta, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar