siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima

Rabu, 04 April 2012

ANALISIS WACANA LIRIK LAGU “SEPARUH JIWAKU PERGI” KARYA ANANG HERMANSYAH TINJAUAN SEGI KONTEKS, ASPEK GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL

A.    Pendahuluan
Dalam mengeskpersikan situsi emosial yang dirasakan, manusia berusaha melalui berbagai cara. Salah satunya yaitu dengan menciptakan lagu.
Dalam menciptakan lagu, kemampuan untuk membangkitkan keindahan dan daya imajinasi seorang penyair sangat menentukan. Tanpa memiliki kemampuan untuk memperhitungkan hal tersebut, kemampuan seseorang dalam menciptakan lagu dapat dikatakan kurang.
Menciptakan lagu tidak hanya mengetahui tentang berbagai seluk beluk tentang tempo, nada, dan irama, tetapi penghayatan terhadap lirik lagu menjadi bagain yang tidak dapat terpisahkan. Kemampuan dalam memberikan penghayatan terhadap lirik lagu akan memberikan keindahan dan daya tarik tersendiri bagi pendengarnya. Biasanya seorang pengarang akan memberikan tema-tema tertentu dalam setiap lirik lagunya.
Lirik lagu yang paling populer di kalangan anak muda adalah lirik lagu yang bertema percintaan. Baik percintaan itu sifatnya menyenangkan, maupun menyedihkan. Tema-tema tersebut oleh penyair diambil dari pengalaman pribadinya atau pengalaman-pengalaman yang menimpa orang lain. Begitu juga penyair yang berasal dari Jember, yaitu Anang Hermansyah.
Anang Hermansyah lahir pada tanggal 18 Maret 1969 di Jember, Jawa Timur. Sejak masa SMA, Anang Hermansyah sudah ‎mulai mengasah bakat musiknya lewat kegiatan nge-band. Akan tetapi, ‎penyanyi ini baru benar-‎benar serius merintis karir musik saat kuliah di ‎Universitas Islam Bandung.‎ Di Kota Kembang tersebut, Anang banyak mencurahkan ‎perhatiannya pada musik dan bergabung di sanggar milik Doel ‎Sumbang. Ia bahkan sempat ikut rekaman dengan Doel Sumbang, namun ‎tidak sempat dipublikasikan.‎
Tahun 1989, Anang memutuskan untuk mencoba keberuntungan di ‎Jakarta. Ia lalu berkenalan dengan Pay Siburian, gitaris ‎BIP yang saat itu masih memperkuat Slank. Lewat Pay, Anang ‎yang pernah menyabet gelar "Vokalis Terbaik" di ajang "Rock ‎Festival Jawa-Bali" ini pun masuk dalam lingkungan ‎pergaulan Gang Potlot dan kemudian memperkuat grup Kidnap.‎ Lepas dari Kidnap, Anang mulai merintis karir solo. ‎Berturut-turut ia lalu menciptakan album Biarkanlah, Lepas, ‎Melayang, dan Tania. Di samping itu, Anang juga berduet ‎dengan Krisdayanti, istrinya dan menghasilkan album: Berartinya Dirimu, ‎Kasih, Buah Hati, dan Makin Aku Cinta.
Selain sebagai penyanyi, Anang juga menjalani profesi lain ‎sebagai pencipta lagu, aranjer sekaligus produser untuk ‎beberapa penyanyi, termasuk buat istrinya, Krisdayanti, ‎sambil mengelola Studio Hijau, studio rekaman miliknya. Di ‎tahun 2007 ini, Anang terpilih menjadi juri Indonesian ‎Idol. ‎Namun, banyak menyebut kalau karir Anang sebagai penyanyi dan musisi kian bersinar setelah menikah dengan Krisdayanti. Anang  menikah dengan Krisdayanti pada tanggal 22 Agustus 1996. Apabila banyak artis yang setelah menikah karirnya menurun, tidak demikian dengan Krisdayanti dan Anang. Terbukti dari album duet mereka maupun album solo.
Dari pernikahan mereka, Anang dan Krisdayanti  mempunyai 2 orang anak, Titania Aurelie Nurhermansyah yang lahir tahun 1998 dan  Azriel Akbar Hermansyah, lahir tahun 2000. Seperti pasangan selebriti lain, rumah tangga Anang dan Krisdayanti juga kerap diterpa gosip tak sedap, seperti perselingkuhan. Namun, mereka sanggup mengatasi semua itu, hingga tiga hari jelang perayaan ultah pernikahan mereka yang ke 13, Anang dan Krisdayanti bersepakat bercerai baik-baik tanggal 19 Agustus 2009. Anang memutuskan untuk bercerai dengan Krisdayanti konon karena wanita yang ia cintai itu berselingkuh dengan pria lain. Melalui perjalanan cintanya ini muncullah album yang berjudul Separuh Jiwaku Pergi.


Lirik Lagu “Separuh Jiwaku Pergi” karya Anang Hermansyah
Separuh Jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka
bermain hati dengan sadarmu
Kau tinggal aku
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati
Kau curangi aku
Kau dustai hati
Benar kumencintaimu



B.    Kajian Teori Analisis Wacana
1.    Pengertian Wacana
Sebuah kalimat yang padu dapat tercapai apabila kalimat-kalimat pembangunnya mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain memiliki hubungan kohesi dan koherensi. Hubungan kohesi artinya antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain memiliki hubungan bentuk yang ditandai dengan penggunaan unsur bahasa. Hubungan koherensi terbentuk apabila antara kalimat yang satu dengan yang lain memiliki hubungan makna atau semantis.
“Satuan kebahasaan yang terlengkap dan tertinggi di atas kalimat yang memiliki hubungan koherensi dan kohesi yang tinggi berkesinambungan dari awal sampai akhir yang diungkap melalui media tulis atau lisan disebut dengan wacana” (Tarigan, 1987: 27). Menurut Samsuri (1987: 1), wacana adalah rekaman kebahasaan yang utuh tentang komunikasi, yang diungkap melalui lisan atau tulis, dan bersifat pragmatis (referensi, inferensi, kohesi, dan koteks/konteks yang menyertainya).
Menurut Chaer (1994: 267), wacana adalah satuan kebahasaan yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi/terbesar. Wacana dikatakan lengkap apabila mengandung konsep, gagasan, pikiran, dan ide yang utuh dan bisa dipahami oleh pembaca (wacana tulis) atau dapat dipahami oleh pendengar (wacana lisan). Kalimat-kalimat pembangunnya memiliki kekohesian dan kekoherensian yang erat.
Tiga pendapat tersebut menyatakan hal yang sama, yakni wacana merupakan satuan kebahasaan dalam hierarki gramatikal terlengkap dan tertinggi di atas kalimat yang memiliki hubungan kohesi dan koherensi yang tinggi serta bersifat pragmatis dan diungkap melalui media tulis atau lisan.
2.    Unsur Wacana
Wacana memiliki dua unsur pendukung utama yaitu unsur dalam (internal) dan unsur luar (eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedang unsur eksternal berkaitan dengan hal-hal di luar wacana. Kedua unsur tersebut membentuk satu kepaduan dalam suatu struktur yang utuh dan lengkap.
a.    Unsur Internal Wacana
Menurut Mulyana (2005: 7-11), unsur internal wacana itu terdiri atas satuan kata dan kalimat serta teks dan koteks. Kata adalah bentuk ungkapan atau tuturan terpendek yang memiliki esensi sebagai kalimat. Kalimat adalah ucapan bahasa yang memiliki arti penuh dan maknanya tergantung dengan kalimat perangkai lainnya. Teks adalah esensi dari wujud bahasa, teks dapat diwujudkan dalam bentuk wacana. Koteks adalah kalimat yang digunakan untuk membantu interpretasi suatu ujaran atau untuk menganalisis wacana yang letaknya sebelum atau sesudah ujaran.
b.    Unsur Eksternal Wacana
Mulyana (2005: 11-24), Lubis (1991: 28-48), Brown dan Yule (terjemahan Soetikno, 1996: 27-48) menyatakan hal yang sama, bahwa unsur eksternal wacana itu terdiri atas referensi, praanggapan, implikatur, inferensi, dan konteks wacana.
1)    Referensi adalah hubungan antara kata dengan orang atau benda sebagai perujuknya. Dalam hal ini, pihak pembicara sendiri yang menentukan referensi suatu tuturan, karena pembicara yang mengetahui sesuatu yang diujarkannya.
2)    Praanggapan (presuposisi) adalah anggapan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa menjadi bermakna bagi orang lain.
3)    Implikatur adalah makna yang tersirat dari sebuah tuturan (petutur dalam memaknai sebuah kata belum tentu sama dengan tuturan yang diucapkan oleh penutur).
4)    Inferensi adalah kesimpulan dari tuturan yang disampaikan oleh pembicara yang didasarkan pada latar belakang pembicara dan pendengar.
5)    Konteks wacana adalah situasi atau latar belakang terjadinya suatu peristiwa komunikasi.
3.    Analisis Wacana
Analisis wacana adalah telaah mengenai fungsi-fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi (Tarigan, 1987:24). Menurut Eriyanto (2000:5), analisis wacana adalah analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna yang ada dalam wacana, sedang menurut Pranowo (1996: 73), analisis wacana adalah studi bahasa yang didasarkan pada pendekatan pragmatik, yang artinya mengkaji bahasa dalam pemakaiannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa analisis wacana digunakan untuk mengkaji pemakaian bahasa dalam komunikasi, atau untuk menganalisis makna yang tersirat dan tersurat dalam sebuah komunikasi. Dengan menggunakan analisis wacana diharapkan dapat memahami secara mendalam yang disampaikan oleh penutur (baik tuturan langsung maupun tuturan tidak langsung, baik lisan maupun tulisan). Untuk memahami sebuah wacana dapat dilakukan melalui analisis terhadap aspek gramatikal, aspek leksikal, dan konteks.
4.    Aspek Gramatikal Wacana
Menurut Sumarlam (2003: 23-46) dan Lubis (1991: 28-48), bahwa aspek gramatikal sebuah wacana terdiri atas referensi (reference), subtitusi (substitution), pelesapan (ellipsis), dan konjungsi/perangkai (conjunction).
a)    Pengacuan (Referensi)
Pengacuan adalah salah satu jenis aspek gramatikal berupa satuan  lingual yang mengacu pada satuan lingual lain. Satuan lingual yang memiliki acuan berada dalam teks wacana disebut pengacuan endofora, sedang satuan lingual yang memiliki acuan berada di luar teks wacana disebut pengacuan eksofora. Macam-macam pengacuan (referensi) adalah sebagai berikut ini.
(1)    Pengacuan Persona
Pengacuan persona direalisasikan dengan kata ganti orang pertama, kedua, ketiga, baik tunggal maupun jamak.
Contoh: “Hai Sri! Aku kemarin melihatmu di Malioboro”, kata Eki.
Aku mengacu pada diri Eki, sedang mu mengacu pada Sri.  Aku merupakan pengacuan persona bebas, sedangkan mu merupakan pengacuan persona terikat lekat kanan.
(2)    Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif direalisasikan dengan kata ganti penunjuk waktu dan tempat.
Contoh: Setiap malam, sekitar pukul tiga aku selalu sholat tahajud.
Kalimat tersebut menunjuk waktu setiap malam pukul 3
(3)    Pengacuan Komparatif
Pengacuan komparatif adalah pengacuan yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan.
Contoh: Berbeda dengan adiknya, Fitri orangnya ramah dan tidak sombong.
Kalimat tersebut membandingkan antara sifat Fitri dengan adiknya, dimungkinkan bahwa sifat adiknya sangat angkuh.
b)    Penyulihan (Subtitusi)
Penyulihan (subtitusi) adalah jenis aspek gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu untuk memperoleh unsur pembeda. Macam-macam penyulihan (subtitusi) sebagai berikut ini.
(1)    Subtitusi Nominal
Subtitusi nominal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nominal (kata benda).
Contoh: Erna kini sudah berhasil mendapatkan gelar sarjana. Titel kesarjanaannya itu ia gunakan untuk mengabdikan diri pada negara.
Kata gelar disubtitusikan dengan kata titel yang sama-sama berkategori nominal.
(2)    Subtitusi Verbal
Subtitusi verbal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori verbal (kata kerja).
Contoh: Dina sekarang bekerja sebagai pramuniaga.  Ia menjadi penjaga toko di Kawasan Malioboro.
Kata pramuniaga disubtitusikan dengan kata penjaga toko yang mempunyai kategori sama, yakni keduanya sama-sama kata kerja.
(3)    Subtitusi Frasal
Subtitusi frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa.
Contoh: Rian sangat mencintai Tyo. Tyo juga sangat mencintai Rian. Dua insan ini sama-sama saling mencintai.
Kata Rian dan Tyo dalam kalimat di atas disubtitusikan dengan kata dua insan.
(4)    Subtitusi Klausal
Subtitusi klausal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kalimat atau klausa.
Contoh: A: Apabila para koruptor tidak berhenti mencuri uang negara, maka Indonesia tidak akan terbebas dari krisis ekonomi.
   B: Iya benar, memang begitu.
Pada kalimat di atas klausa yang diungkapkan oleh A, disubtitusikan dengan kata begitu oleh penutur B.
c)    Pelesapan (Elipsis)
Pelesapan atau elipsis adalah salah satu jenis aspek gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Fungsi dari pelesapan atau elipsis adalah 1) untuk menghasilkan kalimat yang efektif, 2) untuk mencapai nilai ekonomis pemakaian bahasa, 3) untuk mencapai kepaduan wacana, 4) untuk mengaktifkan pemikiran pembaca, dan 5) untuk kepraktisan berbahasa.
Contoh: Aku dan Andri sama-sama mahasiswa PBSI. Berangkat ke kampus selalu bersama, pulang juga bersama.
Pada tuturan tersebut terjadi pelesapan satuan lingual berupa frasa aku dan Andri, yang diganti dengan kata bersama.
d)    Perangkaian (Konjungsi).
Konjungsi atau perangkaian adalah jenis aspek gramatikal yang menghubungkan unsur satu dengan unsur lain dalam wacana.
Contoh: Karena rumahnya terletak di daerah gempa, maka tak heran apabila rumahnya hancur rata dengan tanah.
Konjungsi karena berfungsi untuk menyatakan hubungan sebab-akibat.
5. Aspek Leksikal Wacana
Menurut Sumarlam (2003: 35-46), aspek leksikal/kohesi leksikal wacana terdiri atas repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas-bawah), antonimi (lawan kata), dan ekuivalensi (kesepadanan).
a)    Repetisi (Pengulangan)
Repetisi (pengulangan) adalah pengulangan satuan lingual tertentu yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks. Macam-macam pengulangan sebagai berikut ini.
(1)    Repetisi Epizeuksis
Repetisi epizeuksis adalah pengulangan satuan lingual yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut.
Contoh: Sebagai orang yang beriman, berdoalah selagi ada kesempatan, selagi diberi umur panjang, selagi diberi kesehatan. Mari kita berdoa selagi Allah mencintai umat-Nya (Sumarlam, 2003: 36).
Kata selagi diulang berkali-kali karena untuk memberikan penekanan betapa pentingnya kata itu dalam konteks tuturan.
(2)    Repetisi Tautotes
Repetisi tautotes adalah pengulangan satuan lingual dalam sebuah konstruksi.
Contoh: Dian sangat mencintai Tini. Tini juga sangat mencintai Dian. Dua insan ini sama-sama saling mencintai.
Kata mencintai diulang berkali-kali dalam sebuah konstruksi.
(3)    Repetisi Anafora
Repetisi anafora adalah pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya.
Contoh:. Aku sayang kamu karena kasih sayangmu. Bukan karena tampanmu dan bukan karena hartamu.
Kata bukan diulang berkali-kali untuk memberikan penekanan.
(4)    Repetisi Epistrofa
Repetisi epistrofa adalah pengulangan satuan lingual kata atau frasa pada akhir baris, atau akhir kalimat.
Contoh: Bumi yang kau diami adalah ciptaan Allah. Udara yang kau hirup adalah ciptaan Allah. Air yang kau teguk adalah ciptaan Allah. Semua makhluk hidup dan mati adalah ciptaan Allah.
Pada kalimat di atas terdapat penekanan satuan lingual adalah ciptaan Allah.
(5)    Repetisi Simploke
Repetisi simploke adalah pengulangan satuan lingual pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh:   Kamu bilang hidup ini brengsek. Biarin.
    Kamu bilang hidup ini gak punya arti. Biarin. (Keraf, 1994: 128)

Pengulangan satuan lingual terdapat pada awal dan akhir kalimat, yaitu kata Kamu bilang hidup ini, dan kata biarin keduanya diulang pada baris kedua.
(6)    Repetisi Mesodiplosis
Repetisi mesodiplosis adalah pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh:  Pegawai kecil jangan mencuri kertas.
            Para pembesar jangan mencuri uang negara.   
            Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri.(Keraf, 1994: 128)

Pada tiga kalimat di atas terdapat penekanan satuan lingual yang terdapat di tengah, yaitu jangan mencuri.

(7)    Repetisi Epanalepsis
Repetisi epanalepsis adalah pengulangan satuan lingual yang kata terakhir kalimat itu merupakan pengulangan kata pertama.
Contoh:  Tersenyumlah engkau, selagi engkau bisa tersenyum.
Kata tersenyum di awal kalimat diulang pada akhir kalimat.
(8)    Repetisi Anadiplosis
Repetisi anadiplosis adalah pengulangan kata/frasa terakhir kalimat menjadi kata/frasa pertama.
Contoh: Usaha harus disertai doa. Doa berarti harapan. Harapan berarti perjuangan hidup. (Sumarlam, 2003: 38)
Contoh kalimat di atas terdapat pengulangan kata akhir kalimat menjadi kata pertama, yaitu kata doa, dan harapan.
b)    Sinonimi (Padan Kata)
Sinonimi adalah nama lain dari suatu benda, atau ungkapan yang memiliki makna hampir sama atau bahkan sama. Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana, yang berfungsi untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain. Macam-macam sinonimi berdasarkan satuan lingualnya sebagai berikut.
(1)    Sinonimi Morfem Bebas dengan Morfem Terikat
Contoh: Aku mohon kamu mengerti perasaanku.
Morfem aku bersinonim dengan morfem –ku.
(2)    Sinonimi Kata dengan Kata
Contoh: Aku sudah mendapat gelar sarjana. Title kesarjanaanku adalah sarjana pendidikan
Kata gelar bersinonim dengan kata title.
(3)    Sinonimi Kata dengan Frasa atau Sebaliknya.
Contoh: Tanggal 27 Mei 2006 Yogya dilanda gempa berkekuatan 5,9 SR. Akibat musibah itu  banyak rumah rata dengan tanah.
Kata gempa  bersinonim dengan frasa musibah itu.
(4)    Sinonimi Frasa dengan Frasa
Contoh: Nisa merupakan gadis yang mudah bergaul. Dalam satu minggu ia bisa beradaptasi dengan baik di kantor barunya.
Frasa mudah bergaul bersinonim dengan frasa beradaptasi dengan baik.
(5)    Sinonimi Klausa/Kalimat dengan Klausa
Contoh: Untuk memecahkan masalah diperlukan landasan teori yang kuat. Pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan itu pun harus akurat.
Klausa memecahkan masalah bersinonim dengan klausa menyelesaikan persoalan itu.
c)    Antonimi (Lawan Kata/Oposisi Makna)
Antonimi/oposisi makna adalah satuan lingual kebahasaan yang memiliki makna berlawanan. Fungsi oposisi makna/antonimi adalah mendukung kepaduan wacana secara semantis. Macam-macam oposisi makna/antonimi/lawan kata adalah sebagai berikut.
(1)    Oposisi Mutlak
Oposisi mutlak adalah oposisi yang mempertentangkan secara mutlak.
Contoh: hidup dipertentangkan dengan mati.
(2)    Oposisi Kutub
Oposisi kutub adalah oposisi yang mempertentangkan secara tidak mutlak tetapi bersifat tingkatan makna (gradasi)
Contoh: kaya dipertentangkan dengan miskin.
(3)    Oposisi Hubungan
Oposisi hubungan adalah oposisi makna yang kehadiran kata baru bersifat saling melengkapi.
Contoh: guru dengan murid, bapak dengan ibu.

(4)    Oposisi Hierarkial
Oposisi hierarkial adalah oposisi yang menyatakan makna secara bertingkat atau berjenjang.
Contoh: SD>< SMP ><SMU, minggu><bulan><tahun
(5)    Oposisi Majemuk
Oposisi majemuk adalah oposisi makna yang terjadi pada dua kata atau lebih.
Contoh: diam><berbicara, berdiri><jongkok
d)    Kolokasi (Sanding Kata)
Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang digunakan secara berdampingan. Kolokasi digunakan untuk mendukung kepaduan wacana.
Contoh: Dalam dunia pendidikan menggunakan kata guru, murid, buku, sekolah, pelajaran, alat tulis dan sebagainya.
e)    Hiponimi (Hubungan Atas Bawah)
Hiponimi adalah satuan lingual yang maknanya merupakan bagian dari satuan lingual lain, adanya hubungan atas bawah.
Contoh: Binatang menyusui termasuk kategori mamalia. Mamalia yang biasa hidup di darat adalah sapi, kambing, kuda, dan kerbau, sedang mamalia yang hidup di air adalah ikan hiu dan ikan paus.
Pada satuan lingual di atas binatang menyusui dijelaskan dengan mamalia. Mamalia dijelaskan dengan sapi, kambing, kerbau, kuda, hiu, dan paus.
f)    Ekuivalensi (Kesepadanan)
Ekuivalensi (kesepadanan) adalah hubungan antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain secara sepadan.
Contoh: Rahayu merupakan pelajar teladan, setiap hari belajar dengan tekun, apabila diajar oleh guru ia selalu memperhatikan.
Kata pelajar mempunyai hubungan kesepadanan dengan kata belajar dan diajar.
6.    Konteks
Konteks adalah aspek internal dan eksternal dari sebuah wacana, baik yang terdapat dalam teks maupun yang berada di luar teks yang mempunyai peran dalam interpretasi wacana (Sumarlam, 2003: 47). Menurut Sumarlam (2003: 47-48), untuk memahami sebuah konteks yang benar, diperlukan pemahaman terhadap konteks situasi dan budaya.
Pemahaman konteks situasi dan budaya dalam wacana dapat dilakukan dengan berbagai prinsip, yakni prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran lokasional, prinsip penafsiran temporal, dan prinsip analogi. Dalam memahami wacana dengan berbagai prinsip penafsiran dan analogi tersebut harus mempertimbangkan faktor sosial, situasional, kultural dan pengetahuan dunia.
a)    Prinsip Penafsiran Personal
Prinsip penafsiran personal adalah prinsip penafsiran yang berkaitan dengan pelaku tutur atau siapa penuturnya dan siapa mitra tuturnya.
Contoh: Maa, susu Maa…!
Pada contoh kalimat di atas dapat pahami bahwa tuturan seperti itu biasanya diucapkan oleh seorang anak kecil yang haus ingin minta susu kepada ibunya.
b)    Prinsip Penafsiran Lokasional
Prinsip penafsiran lokasional adalah prinsip penafsiran yang berkaitan dengan penafsiran tempat, lokasi terjadinya suatu peristiwa dan proses dalam rangka memahami wacana.
Contoh: 1)  Di sini murid-murid harus memperhatikan perintah guru
2)    Di sini dilarang merokok

Di sini pada contoh kalimat 1) dapat diartikan sebagai kelas, sedang di sini pada contoh kalimat 2) dapat diartikan sebagai tempat umum, misalnya di rumah sakit, di kantor, yang menyatakan bahwa tempat itu tidak mengizinkan untuk merokok.

c)    Prinsip Penafsiran Temporal
Prinsip penafsiran temporal adalah prinsip penafsiran yang berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu, sesuai dengan konteks kalimatnya.
Contoh: 1) Pada zaman modern sekarang ini, HP sudah bukan barang mewah lagi.
2)    Sekarang ini saya sudang kuliah di UAD.

Pada kalimat 1) kata sekarang  dapat diartikan sebagai zaman modern, sedang pada kalimat 2) kata sekarang artinya rentang waktu tertentu, bisa tahun ini, tahun 2006.
d)    Prinsip Analogi
Prinsip analogi adalah prinsip penafsiran yang digunakan sebagai dasar untuk memahami makna dan mengidentifikasi maksud wacana.
Contoh: Keluarga Pak Adi mendapat pukulan berat sejak anaknya masuk tahanan.
Berdasarkan prinsip analogi kita dapat menginterpretasikan makna pukulan berat, yakni dengan mempertimbangkan kalimat berikutnya semenjak anaknya masuk tahanan, maka kalimat tersebut mempunyai arti keluarga Pak Adi merasa terpukul setelah anaknya masuk tahanan. Pukulan berat di atas artinya pukulan mental bukan pukulan secara fisik.
C.    Analisis Wacana Lirik Lagu “Separuh Jiwaku Pergi” Karya  Anang Hermansyah dari Aspek Gramatikal
    Aspek gramatikal wacana meliputi: pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (elipsis), dan perangkaian (conjunction). (Halliday dan Hasan, 1976: 6; Sumarlam, 1996: 66; Baryadi, 2001:10). Selanjutnya adalah penjelasan keempat aspek gramatikal tersebut dan disertai dengan contoh-contoh dalam analisis lirik lagu yang berjudul “Separuh Jiwaku Pergi”.
1.    Pengacuan (Referensi)
    Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan)  yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, pengacuan dibedakan menjadi dua, yaitu (a) pengacuan endofora yaitu apabila acuannya berada di dalam teks, (b) pengacuan eksofora yaitu apabila acuannya berada di luar teks wacana. Pengacuan endofora berdasarkan arah pengacuannya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pengacuan anaforis (anaphoric reference) dan pengacuan kataforis  (cataphoric reference). Pengacuan anaforis yaitu salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu pada anteseden di sebelah kiri, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Sedangkan, pengacuan kataforis yaitu salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu  pada satuan lingual lain yang mengikutinya, atau mengacu anteseden di sebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang baru disebut  kemudian.
Jenis kohesi pengacuan gramatikal, pengacuan tersebut diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu: (a) pengacuan persona, (b) pengacuan demonstratif, dan (c)  pengacuan komparatif.
a)  Pengacuan Persona
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang), yang meliputi persona I, persona II, dan persona III, baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona I tunggal, II tunggal dan III tunggal ada yang berbentuk bebas dan terikat. Sedangkan yang berbentuk terikat ada yang melekat di sebelah kiri (lekat kiri) dan ada yang melekat di sebelah kanan (lekat kanan). Pengacuan persona dalam lirik lagu “Separuh Jiwaku Pergi” antara lain:
(1)    Separuh jiwaku pergi
(2)    Bermain hati dengan sadarmu
(3)    Kau tinggal aku
(4)    Benarku mencintaimu
(5)    Kau khianati hati ini
(6)    Kau curangi aku

Satuan lingual –ku pada jiwaku pada kutipan (1) merupakan pengacuan eksofora pronomina persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan yang mengacu pada pembicara, penyair yaitu Anang Hermansyah. Satuan lingual –mu pada sadarmu pada kutipan (2) merupakan pengacuan eksofora pronomina persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan yang mengacu pada istrinya Anang, Krisdayanti. Pengacuan itu dapat dillihat dari konteks luarnya, bahwa istri dari Anang Hermansyah adalah Krisdayanti. Satuan lingual kau dan aku (saya) pada kutipan (3) merupakan pengacuan eksofora pronomina persona pertama tunggal bentuk bebas yang mengacu pada konteks luar, yaitu kau untuk lawan tutur, yaitu Krisdayanti, sementara aku sebagai penutur, yaitu Anang Hermansyah.
b) Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dibedakan menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif yang terdapat dalam lirik lagu “Separuh Jiwaku Pergi” karya Anang Hermansyah:
(7)    Selama dengan aku
Tuturan tersebut memiliki pengacuan demontratif waktu (temporal), yang dimaksud selama dengan aku adalah selama Krisdayanti menikah dengan Anang Hermansyah.
Sementara itu untuk pengacuan demonstrative tempat (lokasional) dan Pengacuan komparatif  tidak diketemukan dalam lirik lagu “Separuh Jiwaku Pergi” karya Anang Hermansyah.
2. Penyulihan (Substitusi)
    Penyulihan (substitusi) merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebutkan) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Substitusi dibedakan menjadi substitusi nominal, verbal, frasal, dan klausal.

Dindin Syahbudin, M.Pd.
Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, 2010

1 komentar:

  1. maaf, kayaknya analisisnya masih kurang............. analisis gramatikalnya kurang, leksikalnya tidak ada....... alangkah lebih baik jika dilengkapi pak.....

    BalasHapus