siap berbagi dan menerima

siap berbagi dan menerima
Tampilkan postingan dengan label BAHASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN MORFOLOGIS DAN KONSTRUKSI SINTAKSIS

oleh:
Dindin Syahbudin, M.Pd.

Persamaan dan perbedaan morfologis dan kontruksi sintaksis. Baik morfologi dan sintaksis  merupakan bagian dari ilmu bahasa . Morfologi  adalah ilmu yang mengkaji soal yang berhubung dengan seluk-beluk bentuk kata, kemungkinan adanya perubahan    golongan kata    ( fungsi gramatik ), kemungkinan perubahan makna kata akibat daripada  perubahan bentuk kata ( fungsi semantik )
Satuan yang paling kecil yang diselidiki oleh morfologi adalah morfem dan yang paling besar burupa kata. Sintaksis mempelajari seluk beluk hubungan antara kata/frase/klausa/kalimat. Kata dalam tataran siktasis adalah satuan yang paling kecil yang terbesar adalah wacana. Jadi materi pelajaran morfologi dan sintasis selalu terkait, jika kita urutkan dari bahwa keenam satuan gramatik menurut Ramlan adalah sebagai berikut, morfem, kara, frase, klausa, kalimat, wacana.
Morfologi    Sintaksis
Mengkaji morfem dan kata

Contoh :
Aminah akan mengadakan perjalanan jauh.

Aminah : satu morfem
akan : satu morfem, mengadakan : tiga morfem meN-     +       ada      +        kan

perjalanan : dua morfem
  per – an     +     jalan
jauh        : satu morfem

unsur ke…an dengan
tidak adil, tidak mampu, tidak serasi…
    Mengkaji frasa, klausa, kalimat dan wacana.

Contoh :
Aminah akan mengadakan perjalanan jauh.

Aminah : subjek
akan mengadakan : predikat


perjalanan jauh : frasa objek



Hubungan kata tidak dengan
Adil, mampu, serasi, cukup

2.    Jelaskan tipe kalimat dan pola kalimat dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia.

Tipe kalimat    Contoh
    Subjek    Predikat    Objek    Pelengkap    Keterangan
S – P    Anggun    Tidur    -    -    -
S – P - O    Harun    membuat     layang-layang    -    -
S – P – Pel    Adik    belajar     Bahasa Indonesia    -    -
S – P – Ket     Saya    mau menikah    -    -    bulan depan
S – P – O – Pel    Ibu    membelikan    adik    Sepatu    -
S – P – O – Ket     Saya    membeli    buku    -    di Gramedia

Tipe kalimat  dalam bahasa Indonesia ada enam  macam berdasarkan fungsi. Keenam tipe kalimat ini juga memiliki pola kalimat dasar. Apabila konstituen kalimat dasar yang tidak wajib diabaikan  maka yang dihasilkan kalimat inti. Tabel di atas merupakan keenam kalimat dasar yang dibedakan berdasarkan pola unsur-unsurnya yang wajib.
Pola Kalimat Dasar
Nomor    Pola Kalimat Dasar    Contoh
1    FN + FN    Ibuku    Guru
2    FN + FV    Adikku    belajar
3    FN + F Numeralia    Ayamku     seekor
4    FN + F Adjektif    Dia      cantik
5    FN + F Adverb    Ayah    ke Jakarta

Berdasarkan jumlah inti kalimat dapat ditentukan  pola-pola dasar sebuah kalimat. Sebuah kalimat luas selalu dapat dikembalikan kepada pola-pola dasar yang dianggap sebagai dasar pembentukan kalimat luas itu.  Dasar pembuatan kalimat luas adalah kalimat inti
6.     a.     Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata kerja
Contoh : 1.   Ibuku guru
2.    Temanku sangat cantik
b.    Kalimat verbal pasif
Ada dua pola terbentuknya kalimat pasif, yaitu kalimat yang diturunkan dari kalimat aktif dan dari kalimat itu sendiri.
Contoh :
1.    Sayuran itu dibeli oleh Ibu.
2.    Aku terantuk batu.
Kalimat nomor satu adalah kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktif Ibu membeli sayuran. Berarti kalimat nomor satu dasar pemasifannya dari kalimat aktif. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat aktif. Kalimat aktif yang tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif disebut kalimat taktransitif. Kalimat tersebut tidak mempunyai objek.
Kalimat nomor dua adalah kalimat pasif yang terbentuk bukan karena dari kalimat aktif, melainkan dari verba yang berkategori pasif. Ada beberapa prefiks yang berkategori pasif, yaitu prefiks di- dan ter- dan pada pola tertentu kata dasar juga berperan sebagai kata kerja pasif. Contohnya Buku aku beli atau Buku kubeli. Pada kalimat Buku aku beli diturunkan dari kalimat aktif Aku membeli buku.
c.    kalimat verbal medial
Kalimat verbal medial adalah kalimat yang subjeknya pelaku sekaligus sebagai penderita.
1.    Dia terantuk batu itu..
2.    Dia terjun ke sungai.
d.    kalimat verbal resiprokal
Kalimat verbal resiprokal adalah kalimat yang predikatnya  menyatakan makna saling.
Contohnya:
1.    Dia bersalaman dengan lawan politiknya.
2.    dua orang kekasih itu berciuman tidak mempunyai rasa malu sedikit pun.
e.    kalimat aktif ekatransitif
Kalimat ekatransitif  adalah kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap dan mempunyai tiga unsure wajib, yakni subjek, predikat, dan objek
Contoh
1.    Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran
              S                  P                               O
2.    Presiden merestui pembentukan Panitia Pemilihan Umum.
            S             P                              O            
3.    Nilai Ujian Nasional menentukan nasib para siswa.
                 S                             P                    O
f.    kalimat aktif dwitransitif
Kalimat bentuk ini mempunyai pola tambahan yaitu hadirnya pelengkap dalam kalimat tersebut selain unsure subjek, predikat, dan objek.
Contoh
1.    Ibu membelikan adik sepatu baru.
 S        P       O       Pel.
2.    Kamu harus membuatkan Pak Ali Laporan tahunan
 S              P                        O               Pel.

g.    kalimat aktif semitransitif
Kalimat aktif semitransitif adalah kalimat yang objeknya tidak dimunculkan. Apabila dimunculkan menjadi kalimat aktif ekatransitif (objek dielipsiskan)
Contohnya:
1. Orang itu sedang mencuci.
2. Pengemis itu sedang meminta.
h.    kalimat ekuatif
Kalimat ekuatif adalah kalimat yaang mengandung kata kerja bantu seperti adalah, menjadi dan merupakan. Kalimat ini antara subjek dan predikat seakan akan dianggap sama atau merupakan pengganti makna.
Contohnya;
1.    Kakekku adalah pelaut.
2.    Dia sekarang menjadi orang kaya.
i.    Pengembangan ide gagasan menulis ada berbagai cara
1.    cara alamiah
Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Pola ini sesuai dengan dimensi dalam kehidupan manusia, yaitu atas-bawah, melintang-menyeberang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat, dsb. Contoh :
Perjalanan waktu dari dahulu hingga sekarang yang tidak pernah berubah dalam kehidupan manusia adalah rasa ingin tahu dan ingin hidup lebih enak. Pada masa pergolakan di tanah air orang susah mendapatkan nasi. Makanan sehari hari hanyalah jagung atau jenis umbi-umbian. Perkembangan zaman jagung dan umbi-umbian harganya lebih mahal dari nasi. Jagung dan umbi-umbian telah dimodifikasi menjadi makanan yang dipajang di restoran.
2.    cara logika/ penalaran
Pola logika  atau penalaran yaitu pola pengembangan paragraph yang mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima oleh akal. Tanggapan yang diberikan dalam tulisan menyesuiakan jalan pikiran sebagai landasan untuk memecahkan persoalan. Contoh :
Rasa ingin tahu seseorang dipicu oleh perasaan hati manusia ingin hidup lebih baik. Keinginantahuan seseorang menjadikan hidup lebih kreatif, inovatif, dan berarti. Kekreatifan dan keinovatifan seseorang menjadikan hidup dan tidak mati. Masa bodah seseorang akan membunuh secara perlahan hidup dan kehidupan.
3.    urutan kepentingan
Urutan kepentingan sama dengan pola familiaritas, yaitu pengarang dalam mengembangkan karangannya dimulai dengan cara mengemukakan sesuatu yang berdasarkan skala prioritas kemudian berangsur-angsur mengemukkan yang tidak begitu penting.
Usaha mengembangkan produktifitas pertanian tidak akan terlepas dari kemauan dan usaha petani itu sendiri. Ada beberapa usaha yang harus dilakukan oleh petani dalam meningkatkan hasil pertanian. Usaha ini lebih dikenal dengan pancausaha tani. Memilih bibit unggul merupakan langkah yang harus dilakukan oleh petani agar hasil tanaman yang akan dipanen menjadi baik. Petani tidak boleh asal menanam bibit tanaman. Bibit tanaman itu harus dicari keunggulan-keunggulannya. Langkah ini sering diabaikan oleh petani Indonesia.
4.    cara perbandingan
Pola perbandingan adalah dengan cara membandingkan atau menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua orang, objek, atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu. Contoh
Kondisi perekonomian kota dan pedesaan ditinjau dari ketahanan pangan sangat berbeda. Perekonomian masyarakat pedesaan lebih kuat dibanding dengan perekonomian kota. Simbiosis mutualis inilah yang menjadikan kedua perekonomian kota dan pedesaan tetap berjalan.
5.    cara pertentangan
Pola pertentangan lebih menekankan pada aspek mencarai perbedaan unsur-unsur yang akan diungkap. Contoh :
Proses demokrasi sebagai  cita-cita luhur itu  kurang lancar jalannya. Ketidakberhasilan ini karena adanya perbedaan kepentingan. Pandangan picik dari masyarakat yang mengatakan bahwa demokrasi akan menyebabkan kondisi keamanan yang tidak kondusif sebagai penyebab demokrasi tidak berjalan dengan baik. Sebagian masyarakat lain memandang situasi yang tidak kondusif ini dipicu karena demokrasi tidak berjalan. Pemerintah yang otoarian menyebabkan kesengsaraan di mana-mana..
j.    Paragraf yang baik memiliki tiga syarat utama kohesi koherensi dan kelengkapan jelaskan dan deskripsikan piranti kohesi yang biasa digunakan dalam pengembangan pararagraf.
8.     Tiga syarat paragraf yang baik
1.    koherensi
Setiap paragraf  haruslah merupakan kumpulan kalimat yang saling berhubungan padu, tidak berdiri-sendiri atau terlepas satu sama lain.
2.    kelengkapan
Paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan  kalimat topik dan dikatakan tidak lengkap apabila tidak dikembangkan atau hanya  diperluas dengan pengulangan- pengulangan.
3.    kohesi
Keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang baik atau koheren. Agar kalimat itu menjadi kohesif adanya unsur
a.    hubungan sebab-akibat baik antarklausa maupun anatar kalimat yang dinyatakan dengan kata penghubung sebab, karena akibat dan lain-lain.
b.    Hubungan pertentangan yang dinyatakan dengan kata penghubung tetapi, namun, sedangkan
c.    Hubungan pengutamaan yang dinyatakan dengan kata penghubung bahkan
d.    Hubungan perkecualian yang dinyatakan dengan kata penghubung kecuali
e.    Hubungan konsesif yang dinyatakan dengan kata penghubung walaupun, meskipun,
f.    Hubungan tujuan yang dinyatakan dengan kata penghubung agar,  supaya
g.    Hubungan persesuaian alami yang dinyatakan dengan hubungan yang bersifat gramatikal
Kesemua unsur ini akan membentuk sebuah paragraf yang baik dan padu.
9.     Problema semantik yang sering dijumpai di sekolah antara lain :
a.     Adanya kata-kata yang sama dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Sunda, tetapi maknanya berbeda.
Contoh : papah, suku, amis, dst.
b.     Adanya kesulitan pada anak ketika dihadapkan pada pembelajaran makna denotasi dan konotasi dalam frasa.
Contoh : kambing hitam, lintah darat, dukun beranak, timah panas, dst.
c.     Adanya penulisan kalimat yang ambigu dalam karang-mengarang.
Contoh : Ditangkap dua orang penculik di kampung kami.
d.     Adanya kesulitan siswa dalam mencari dan memahami makna kata-kata baku yang masih asing di telinga siswa.
Contoh : senyampang, madani, dst.
e.     Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna kata-kata serapan dari bahasa asing.
Contoh : diversifikasi, intensifikasi, dst.
f.    Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna diksi dalam karya sastra.
g.    Adanya ketumpangtindihan penggunaan kata ’jam’ dan ’pukul’, ’tiap-tiap’ dan ’masing-masing’.
h.    Adanya pengaruh kuat yang negatif dari media elektronik dalam mengunakan dan memaknai kata ganti ’kami’ dan ’kita’ dalam percakapan sehari-hari.

(Universitas Negeri Yogyakarta, 2008)

TATA BUNYI, TATA TULIS, TATA UCAP, MORFOLOGIS, DAN MORFOFONEMIS

oleh:
Dindin Syahbudin, M.Pd.

1.    Bunyi-bunyi bahasa yang terjadi akibat udara yang dihembuskan atau dihisap dan mendapat hambatan dengan berbagai cara dan dibedakan menjadi beberapa istilah dalam tata bunyi Bahasa Indonesia.
Huruf dalam tataran ini dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir. Huruf belum bermakna  sedangkan fonem sudah mampu membedakan makna. Fon merupakan suatu hasil bunyi dari alat ujar dan dalam proses menghasilkan bunyi tersebut dikenal kontoid dan vokoid. fonotaktik  mempunyai pola yang terkait dengan pola penyukuan kata  dan pergeseran bunyi menimbulkan variasi bunyi satu fonem yang sama. Berikut beberapa pengertian berikut contohnya.
a.    Huruf adalah aksara atau gambaran bunyi bahasa.
Contoh :
Huruf vokal    Cara pemakaian dalam kata
    Di awal    Di tengah    Di akhir
a
i
o
u
e*    ada
itu
onak
usaha
edan
elang    padu
dian
doa
dua
denah
seram    doa
mandi
kado
madu
pete
himne


Huruf Konsonan    Cara pemakaian dalam kata
    Di awal    Di tengah    Di akhir
k
s
l
h
n    kapan
saya
lisan
harap
nama    makan
insaf
malu
tahap
makna    kakak
harus
tolol
sudah
jalan

b.    Fonem adalah satuan yang terkecil yang terdiri  atas bunyi-bunyi ujar yang dapat membedakan arti.
Contoh : lari, tari, dari, jari, mari, sari, cari, dst.
fonem /l, t, d, j, m, s, c/ mampu menunjukkan terjadinya perbedaan makna, sehingga disebut fonem yang berbeda
c.    Fon adalah bunyi bahasa terkecil baik yang membedakan arti atau tidak membedakan arti. ( tahun – taun / ramai – rame / satai –sate / cabai –cabe)
d.    Kontoid adalah bunyi yang bagi pengucapanya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat-alat supra glotal.
Contoh:  [p] (papa), [t] (tata), [d] (dada
e.    Vokoid adalah bunyi yang bagi pengucapannya jalan mulut  tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya dan tanpa menyebabkan alat-alat supra glottal sebuahpun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian.
Contoh: [a] (apa),[e] (nenek), [e] (mepe) dalam Bahasa Indonesia berarti menjemur, [i] (ini).
f.    Kaidah fonotaktik adalah kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau  hubungan antara fonem-fonem suatu bahasa. Contoh: dalam perkembangan bahasa Indonesia mengizinkan jejeran /-nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih) /-st-/ (pasti); tetapi tidak mengizinkan jejeran     /-pk-/    /-pd-/  tidak ada morfem asli dalam bahasa Indonesia.
2.     Dalam proses pembelajaran di kelas adakalanya  kita menemukan permasalahan tata tulis dan tata ucap, penggunaan sebuah atau beberapa kata asing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia prinsip pengucapan antara tulisan dan ucapan harus sama sedangkan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris antara tulisan dan pengucapan banyak yang berbeda.
Untuk mengatasi hal tersebut  dilakukan dengan cara:
a.    Penyusunan kamus disertakan cara pengucapannya (transkrip fonetis)
b.    Pengucapan diusahakan antara tulisan dan ucapan sama dalam konteks bahasa Indonesia
c.    Kata asing digunakan jika dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padannya.
d.    Dalam pembelajaran senantiasa berpedoman pada kaidah penyerapan dan tata tulis serta memperhatikan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.
3.     Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis ada enam jenis (Kridalaksana 1988:5) yaitu:
1.    derivasi zero
Derivazi zero adalah proses leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Contoh leksem KITA menjadi kita tanpa perubahan apa-apa
2.    afiksasi
Afiksasi adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan penambahan afiks. Contohnya BAWA menjadi membawa. Ada beberapa jenis afiks, yaitu prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks.
3.    reduplikasi
Reduplikasi adalah proses perubahan leksem menjadi kata dengan cara pengulangan. Contoh RUMAH berubah menjadi rumah-rumah. Ada beberapa jenis reduplikasi di antaranya kata ulang utuh, kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang berubah bunyi.
4.    pemendekkan
Pemendekkan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan cara pemenggalan, konstraksi, akronim, dan penyingkatan. Contoh IBU menjadi bu.
5.    perpaduan
Perpaduan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata karena ada dua leksem tunggal bergabung menjadi kata. Contoh BUAH dan TANGAN menjadi buah tangan.
6.    derivasi balik
Derivasi balik adalh proses terbentuknya leksem menjadi kata. Proses ini sama dengan kejadian dalam afiksasi.

Proses morfofonemis adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemis dalam Bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks. Kalau kita berbicara mengenai morfem, maka kita berbicara mengenai satuan abstrak, sedangkan morf merupakan satuan yang lebih konkret daripada morfem, sedangkan di luar itu, fonem dan fon merupakan satuan yang lebih konkret lagi.
a.    Peristiwa Morfofonemis Pemunculan Fonem
1.    Pemunculan luncuran/y/      /ketinggiYan/ /tepiYan/
2.     Pemunculan luncuran/w/     /KepulauWan/
3.    Pemunculan luncuran/a/     /ayahanda/
4.    Pemunculan luncuran/n/     /seNdiri/
5.    Pemunculan luncuran/m/    /seMbarangan/
6.    Pemunculan luncuran/nge/     /pe NGE las/
7.    Pemunculan luncuran/ng/    /peNGgugat/
b.    Peristiwa Morfofonemik Pengekalan Fonem
Penggabungan morf tak terjadi perubahan apa-apa.
1.    Pengekalan fonem diawali /l,r,y,w/ melihat, pemula, penilai
2.    Pengekalan fonem bila berakhiran /a/  dan mendapat konfiks ke-an. kerajaan,  keadaan
3.    Pengekalan fonem terjadi bila berafiks ber-, ter-, per-, se-, wan,wati  bermain, terpukul, pertanda, searah wartawan, wartawati.
4.    Peristiwa Morfofonemik Pemunculan Dan Pengekalan Fonem
Mengkukur dan mengukur
c.    Peristiwa Morfofonemik Pergeseran Fonem
1.    pergeseran ke belakang      /bala-san, rambu-tan/
2.    pergeseran ke depan        /i-bunda, cu-cunda/
3.    pergeseran pemecahan suku kata akibat infiks  /ge-ri-gi,ge-me-tar/
d.    Peristiwa Morfofonemik Perubahan Dan Pergeseran Fonem
1.    Perubahan fonem /’/ menjadi fonem /k/  /menaiki,gerakan/
2.    Perubahan fonem /r/ berubah menjadi /l/ /belajar, pelajar, terlantar/
e.    Peristiwa Morfofonemik pelesapan fonem
1.    pelesapan fonem /h /dan /k/     /sejarawan, ananda/
2.    pelesapan fonem /r /        /peramal,bekerja/
f.    Peristiwa Morfofonemik Peluluhan Fonem
1.    peluluhan fonem /k/         /mengarang,pengiriman/
2.    peluluhan fonem /p/        /memakai, pemahat
g.    Peristiwa Morfofonemik Penyisipan Fonem secara Historis
Peristiwa ini apabila terjadi morfem dasr berasal dari kata asing mendapt afiksasi     / standardisasi,objektif/
h.    Peristiwa Morfofonemik pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
Pemunculan fonem karena mengikuti morfofonemik bahasa asing. /islami, duniawi, surgawi, alami/
i.    Peristiwa Morfofonemik Variasi Fonem Bahasa Sumber
Variasi fonem mengikuti pola bahasa sumber yang memiliki makna yang sama
Tunggal        = kritikus, politikus, alumnus
Jamak        = kritisi, politisi, alumni

(Universitas Negeri Yogyakarta, 2009)

DESKRIPSI PROSES MORFOFONEMIK DARI SURAT KABAR

DESKRIPSI PROSES MORFOFONEMIK DARI SURAT KABAR


oleh :
Dindin Syahbudin, M.Pd.


KAJIAN TEORI
Morfofonemik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 1) telaah tentang perubahan-perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain: morfofonologi, 2) perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan (hubungan)  morfem dengan morfem yang lain.
Sedangkan menurut Kridalaksana (2008) adalah 1) analisis dan klasifikasi pelbagai ujud atau realisasai yang menggambarkan morfem; 2) struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari morfem; termasuk didalamnya penambahan, pengurangan, penggantian fonem, atau perubahan tekanan yang menentukan bangun morfem.
Jadi morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Dalam bahasa Indonesia, ialah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dasar dan morfem afiks.
Berikut adalah analisis peristiwa morfofonemik yang bahannya penulis ambil dari surat kabar “KOMPAS” edisi hari Senin tanggal 06 Oktober 2008  berdasarkan jenis-jenis morfofonemik:
1.     Gejala Pemunculan Fonem
Adalah munculnya fonem baru akibat dari pertemuan morfem dasar dengan morfem afiks
a.     ......memiliki ribuan alumni tersebar di 100 negara dengan top position.......  (halaman 8 kolom iklan)
     ribu + -an        ribuwan            /w/
b.    Berkat pelatihan mengelas dan memperbaiki mesin perahu bermotor yang dilaksanakan................................ (halaman 14 kolom 1)

mə- + las    məŋəlas                /ŋə/
c.    Sebanyak 611 anak SD dilayani 2 sekolah yang menggunakan gedung secara bergantian ......................... (halaman 7 kolom 5)
mə-kan     + guna     məŋgunakan            /ŋ/
d.    ............pengadaan taman bacaan masyarakat untuk mendorong minat baca dan ..................... (halaman 14 kolom 3)
mə- + dorong     məndorong            /n/
e.    Dalam usia 58 tahun ini Yohnny menyumbangkan sistem komunikasi darurat bencana di................... (halaman 16 kolom 1)
    mə-kan     + sumbang     məňxumbangkan        /ňx/
f.    .............oleh pemimpin Sumatera Barat yang punya popularitas untuk membunyikan sirine................. (halaman 16 kolom 2)
mə-kan + bunyi  məmbunyikan            /m/
g.    ...........jaringan antar wilayah ini juga menjadi media untuk mengetes kualitas pemancar pencarian ........... (halaman 16 kolom 4)
mə- + jadi  məňjadi                    /ň/
mə- + tes  məŋetes                    /ŋe/
h.    Anggaran pemberantasan buta aksara dipangkas Rp. 100 miliar, padahal ............... (halaman 14 kolom 3)
pə-an + berantas  pəmberantasan            /m/
i.    Dengan pengenalan tanda-tanda alam yang ada disekitar rombongan ......................... (halaman 16 kolom 6)
pə-an + kenal  pəŋenalan                /ŋ/
j.    Radio yang dirakit sendiri oleh anak-anak muda ini kemudian dipergunakan ................ (halaman 16 kolom 3)
sə- + diri  səndiri                    /n/

2.     Gejala Pengekalan Fonem
Pertemuan morfem dasar dengan morfem afiks tidak menimbulkan perubahan pada fonem (kekal).
a.    Perbaikan kualitas dan mutu guru merupakan tanggung jawab Departemen .....................(halaman 12 kolom )
mə-kan + rupa   məRupakan                /r/
b.    “Guru minim gambaran apa yang harus dilakukan di kelas,” ujar Sulistio .................... (halaman 12 kolom 4)
di-kan + laku  diLakukan                    /l/
c.    Masih ada keraguan apakah makhluk purba jutaan tahun tersebut berukuran kecil atau hanya.................... (halaman 13 kolom 1)
    tər- + sebut  tərSebut                    /s/
bər-an + ukur  bərUkuran                    /u/
d.    ................disebutkan bahwa contoh diambil dari 75 merek, termasuk..................................(halaman 11 kolom 1)
    di-kan + sebut  diSebutkan                    /s/
    di- + ambil  diAmbil                    /a/   
e.    Saya rasa perumahan akan menjadi salah satu yang menentukan untuk .................... (halaman 10 kolom 7)
    pə-an + rumah  pəRumahan                /r/
f.    Bush telah berjuang sepanjang pekan ini untuk ...............................(halaman 10 kolom 6)
    sə- + panjang  səPanjang                    /p/
g.    Femmy Permatasari beruntung memiliki suami yang seiman sehingga............(halaman F kolom 3)
    sə- + iman  səIman                        /i/
3.     Gejala Pengekalan dan Pemunculan Fonem
Dari pertemuan morfem dasar dengan morfem afiks, muncul fonem baru pada morfem afiks dan tidak berubahnya fonem pada morfem dasar.
a.    Hasil sebagai finalis mengantarkannya ke peringkat kesembilan ATP..........(halaman 29 kolom 2)
mə-kan + antar  məŋ?antarkan                /ŋ,?/
b.    Untuk mengukur kecepatan kendaraan biasanya .............(halaman 30 kolom 2)
    mə- + ukur  məŋ?ukur                    /ŋ,?/
4.     Gejala Pergeseran Posisi Fonem
Dalam proses morfofonemik ini ada pergeseran posisi fonem berdasarkan penyukuan (pengucapannya)
a.    ......................lalu tiba-tiba muncul pria yang kelihatannya sangat ..............(halaman 32 kolom 1)
kə-an + lihat  kəlihatan  kə-li-ha-tan            /t/
b.    .............. di rumah sakit di Singapura saat kandungan berusia empat bulan .........(halaman 32 kolom 2)
Kandung + -an  kandungan  kan-du-ngan        /ŋ/
c.    ...............pendapatan dari retribusi wisata saat libur Lebaran tahun ini meningkat dibanding...........(halaman D kolom 6)
pə-an + dapat  pəndapatan  pən-da-pa-tan        /t/
d.    Kemungkinan ramainya sampai sore karena pemudik mengejar tiba di .........(halamanD kolom 3)
kə-an + mungkin  kəmungkinan  kə-mung-ki-nan    /n/
e.    ........................munculnya gelembung udara yang mengandung racun berbahaya .......... (halaman C kolom 3)
    gembung + -el-  gelembung  ge-lem-bung        /e/,/l/
5.     Gejala Perubahan dan Pergeseran Fonem
Adalah berubahnya fonem dari  morfem afiks dan bergeser ketika penyukuan atau pengucapan.
a.    Bukankah fakir miskin dan anak telantar  itu di pelihara oleh...............(halaman B kolom 3)
    tər- + ?antar  tə-lan-tar                    /r//l/
b.    .................adalah kita harus belajar dari pengalaman yang menimpa ........(halaman 23 kolom 4)
    bər- + ?ajar  bə-la-jar                    /r//l/
c.    ...................adalah kita yang memiliki kedudukan rendah bahkan sangat rendah karena ada yang lebih tinggi..................... (halaman C kolom 2)
    kə- an+ dudU?  kə-du-du-kan                /?//k/
6.    Gejala Pelesapan Fonem
Dalam pertemuan morfem dasar dengan morfem afiks kali ini salah fonem dari morfem afiks luluh atau melesap tidak terdengar atau tertulis.
a.    ...................masuk di lokasi peternakan  babi di daerah yang sangat asing itu.........(halaman 5 kolom 6)
    pər- an+ tərnak       /pəternakan/                /r/
b.    Ada 150 peserta dalam kegiatan pelatihan yang diselenggarakan ..............(halaman 7 kolom 2)
    pər- + sərta      /pəsərta/                /r/
c.    ..........pada perayaan  Lebaran tahun ini dirasakan sangat sepi, terutama oleh ............(halaman 24 kolom 4)
    pər- an + raya      /pəraya?an/                /r/
d.    ........sambil  beramai-ramai menikmati keindahan pantai waktu........(halaman 27 kolom 6)
    bər- + ramai      /bəramai/                /r/
e.    Dalam kehidupan kita harus dapat melaksanakan hidup berumah tangga sehingga.......... (halaman 28 kolom 7)
    bər- + rumah      /bərumah/                /r/
e.    ....dalam kesehariannya peramal  itu selalu berpakaian kaus .............(halaman kolom 18 kolom 7)
pər- + ramal      /pəramal/                /r/

(Universitas Negeri Yogyakarta, 2009)

Rabu, 28 Maret 2012

Tips Membaca Cepat

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan baca seseorang terhambat, antara lain

a. Vokalisasi, yaitu membaca sambil bersuara atau mengucapkan kata demi kata yang dibaca.
b. Gerakan bibir pada waktu membaca baik bersuara mauapun tak bersuara.
c. Gerakan kepala mengikuti kata-kata yang dibacanya.
d. Menunjuk (dengan jari atau alat lain) kata-kata yang dibaca pada waktu membaca.
e. Regresi, yaitu gerakan mata melihat kembali beberapa kata yang telah dibacanya.
f. Subvokalisasi, yaitu melafalkan apa yang dibacanya dalam hati atau pikiran.

Untuk meningkatkan kecepatan baca kita, pertama-tama kita perlu mengukur kecepatan baca kita. Untuk itu perlu diadakan pengukuran kecepatan baca kita. Rumusnya :
(Jumlah kata yang dibaca dibagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60) dikalikan prosentase pemahaman.

Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya. Pada umumnya kecepatan baca dapat dirinci sebagai berikut :

a. Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
- mengenal bahan-bahan yang akan dibaca
- mencari jawaban atas pertanyaan tertentu
- mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari bacaan

b. Membaca dengan kecepatan tingngi (500 – 800 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
- membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya
- membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.

c. Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan nonfiksi.
- Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya.

d. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.
- Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan,evaluasi

e. Membaca lambat (100 – 125 kpm)
Biasanya digunakan untuk
- mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.
- Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis
- Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik
- Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk).

MEMBACA PEMAHAMAN
Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca ntuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan

a. mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami.
b. Mengaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.

Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cendenrung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan terssebut menjadi efektif.
Ada beberapa sistem membaca, antara lain
1. SQ3R : survey-question-read-recite-review
2. SQ4R : survey-question-read-recite-rite-review
3. POINT : purpose-overview-interpret-note-test
4. OK4R : overview-key ideas-read-summarize-test

Salahsatu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu
1. SURVEI
Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan srvei adalah
mempercepat menangkap arti
mendapatkan abastrak
mengetahui ide-ide penting
melihan susunan (organisasi) bahan bacaan.
Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Ada beberapa teknik dalam melakukan survei. Untuk tiap jenis bacaan, teknik surveinya berbeda.

Tekni survei buku
- telusuri daftar isinya
- baca kata pengantar
- lihat tabel, grafik
- lihan apendiks
- telusuri indeks

Teknik survei bab
- lihat paragraf pertama dan terakhir
- lihat ringkasan
- lihat subjudul

Teknik survei artikel
- baca judul
- baca semua subjudul
- amati tabel
- baca pengantar
- baca kalimat pertama subbab
- buatlah keputusan (dibaca atau tidak)

Teknik survei klipping
- perhatikan judul
- perhatikan penulisnya

2. QUESTION
Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.

3. READ
Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.

4. RECITE/RECALL
Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya

5. REVIEW
Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.

Menemukan Ide Pokok Wacana

Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam
a. ikhtisar umum yang ada di awal buku
b. ikhtisar bab
c. ikhtisar bagian bab
d. ide pokok paragraf

Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salahsatu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan

a. ditulis cetak miring
b. digarisbawahi
c. dicetak tebal
d. dibubuhi angka-angka
e. ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)

Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain
a. ungkapan penekanan
b. kata yang mengubah arah
c. kata ilustrasi
d. kata tambahan
e. kata simpulan

MEMBACA KRITIS
Membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Dengan demikian, pembca tidak sekedar membaca, melainkan juga berpikir tentang masalah yang dibahas. Hal yang harus diingat dalam membaca kritis adalah bahwa tidak semua yang ditulis itu benar.
Untuk itu kita harus mengikuti jalan pikiran penulis dengan cepat, akurat, dan kritis. Akurat artinya mampu membedakan hal yang relevan dan tidak relevan. Kritis artinya menerima pemikiran yang ditulis dengan dasar yang baik, logis, benar, dan realistis.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membaca kritis adalah
a. mengerti isi bacaan
b. menguji sumber penulisan
c. ada interaksi antara penulis dan pembaca.
d. Memutuskan :menerima atau menolak ide penulis
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap gagasan orang lain, kita perlu mengingat-ingat secara lebih seksama apa saja yang dikemukakan oleh penulis. Untuk itu, ingatan sangat penting. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar kita dapat mengingat lebih lama ddan lebih baik, yiatu
a. hadapi bahan dengan tujuan
b. survei apa saja yang perlu diingat
c. cai fakta dan dapatkan dalam hubungannya dengana konteks
d. kaitkan apa yang dibaca dengan yang telah diketahui.
e. Perhatikan apa yang penting bagi Anda.

Dalam usaha menanggapi pendapata orang lain, kita tidak boleh melupakan hal-hal yang penting yang diungkapkan oleh penulis. Agar tidak terlupakan perlu dibuat sejumlah catatan dari bacaan yang kita baca. Pokok-pokok yang perlu dicatat antara lain
a. bagian-bagian kunci :ide pokok, masalah, informasi penting
b. asumsi penulis tentang segi tertentu
c. detail atau fakta yang kita perlukan
d. pokok-pokok yang menarik
Ada tiga jenis catatan, yaitu
a. catatan berupa koleksi fakta dan detail penting
b. catatan berupa kutipan kalimat, paragraf, kata kunci
c. catatan berupa ringkasan

V. SKIMMING DAN SCANNING
Skimming adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok bacaan. Scanning adalah cara membaca dengan cara melompat langsung ke sasaran yang dicari.

Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
a. bagian yang telah diketahui dari buku lain
b. bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
c. bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
d. bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.

Yang dimaksud skimming adalah mencari hal-hal penting dari bacaaan. Fungsi skimming adalah
a. untuk mengenali topik bacaan
b. untuk mengetahui pendapat/opini orang
c. untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
d. untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.
e. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.

Scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain. Scanning biasa digunakan untuk
a. mencari nomor telepon
b. mencari kata pada kamus
c. mencari entri pada indeks
d. mencari angka statistik
e. melihat acara siaran televisi
f. melihat daftar perjalanan

SEMOGA BERMANFAAT.....

Kamis, 09 Februari 2012

PROBLEMATIKA FONOTAKTIK (TUGAS KULIAH UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA, 2009)


 GAMBARAN PROBLEMATIKA FONOTAKTIK YANG MUNCUL DALAM 
PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP AKIBAT PENGARUH 
FONEM DALAM BAHASA SUNDA


BAB I
PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan oleh seluruh bangsa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seluruh bangsa. Hal ini karena semua kegiatan di negara kita tidak terlepas dari penggunaan Bahasa Indonesia.
Salah satu cara untuk mencapai kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah dengan menanamkan kebiasaan membaca buku yang berkaitan dengan kebahasaan dan kesastraan serta berlatih untuk menggunakannya secara teratur dan berkesinambungan.
Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar baik secara langsung maupun tidak langsung sangat dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah pengaruh bahasa daerah yang merupakan bahasa kesatu penduduk di Indonesia.
Struktur dan keberadaan bahasa daerah di negara kita tentu sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahasa yang resmi atau baku. J.S. Badudu menyatakan bahwa bahasa daerah dapat memperkaya sekaligus merusak bahasa Indonesia. Pernyataan lain juga menyebutkan bahwa untuk mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing akan mendapat hambatan karena pengaruh struktur dan abjad yang dimiliki oleh bahasa pertama.
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimana gambaran problematika fonotaktik yang muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia di SMP akibat pengaruh fonem dalam Bahasa Sunda.”
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi gambaran bagaimana pengaruh fonem bahasa Sunda dalam penggunaaan bahasa Indonesia oleh siswa SMP.
Mengingat waktu yang dimiliki penulis sangat sempit, maka dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode studi literatur dan pengalaman penulis dalam mengajarkan Bahasa Indonesia di kelas.


BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Bahasa Sunda merupakan bahasa kesatu atau bahasa ibu yang dimiliki dan dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Tentu saja sangat berpengaruh ketika pengguna bahasa Sunda harus belajar dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Banyak kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh masyarakat sunda khususnya siswa di kelas.
Kesalahan berbahasa (language errors) berbagai ragam jenisnya. Para pakar bahasa mengelompokkan jenis-jenis kesalahan sendiri-sendiri. Chomsky dalam Tarigan, 1990: 143, mengelompokkan kesalahan berbahasa disebabkan karena faktor kelelahan yang disebut performance. Kesalahan yang lainnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai kaidah-kaidah bahasa yang disebut faktor kompetensi.
Ada perbedaan jenis dan jumlah fonem dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut harus diakui keberadaanya karena merupakan warisan berbahasa yang digunakan secara turun temurun oleh penggunanya.
Huruf konsonan dalam bahasa Sunda sebanyak 18 buah yakni : ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, ja, ya, nya, ma, ga, ba, nga.  Dan huruf vokal sebanyak 7 buah yakni : a, i, u, e, o, é, dan eu. Sedangkan komposisi huruf dalam bahasa Indonesia terdiri dari : a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t, u, v, w, x, y, z.
Dilihat dari komposisi huruf dua bahasa diatas kita dapat mengetahui perbedaan dari keduanya. Bahasa Sunda tidak memiliki huruf “f, q, v, x dan z”, sedangkan bahasa Indonesia tidak memiliki huruf  “é, dan eu .“
Dari perbedaan fonem kedua bahasa tersebut tentunya merupakan masalah tersendiri bagi guru bahasa Indonesia di Jawa Barat. Karena siswa terbiasa dengan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari di rumah mereka. Sehingga ketika harus berhadapan dengan bahasa Indonesia di sekolah tentunya merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.
Berikut daftar masalah fonotaktik yang ditemui penulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
No
Kata
Pengucapan / Penulisan
1.
paragraf
aktif
pasif
daftar
paragrap
aktip
pasip
daptar
2.
qori
qudsi
qur’an
kori
kudsi
kur’an
3.
variasi
vaksinasi
pariasi
paksinasi
4.
sinar x
sinar ek
5.
zat
zaman
zam-zam
jat
jaman
jam-jam
6.
melangkah
seharusnya
dst.
meulangkah
seuharusnya

Penulis hanya mengetengahkan sebagian kecil dari masalah-masalah fonotaktik yang muncul dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
Upaya yang dilakukan penulis agar siswa dapat mengucapkan fonem dengan benar adalah terus melatih pengucapan dengan memberi contoh cara mengucapkan dan memberi tugas daftar kata yang harus dilafalkan oleh siswa di rumah.


BAB III
SIMPULAN
Bahasa  kesatu merupakan bahasa yang pertama kali dikenal manusia di dunia ini. Ketika harus belajar dan menggunakan bahasa kedua atau bahasa asing, bahasa pertama tentunya merupakan pengaruh yang sangat kuat dalam pembelajaran bahasa kedua atau asing. Tetapi ada peribahasa “Alah bisa karena biasa”, artinya sesulit apapun pembelajaran bahasa kedua dan seterusnya jika dibiasakan dengan cara-cara yang benar hasilnyapun  akan baik dan benar.
Menuju proses berbahasa Indonesia yang baik dan benar  harus melalui tahapan pembelajaran yang terus-menerus dan disertai ilmu kebahasaan yang berlaku.
Kita sebagai guru bahasa Indonesia memiliki tanggung jawab moril yang sangat besar dalam upaya mendidik dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada calon-calon penerus bangsa. Jika kita sudah benar dan mengajarkan kepada anak didik dengan benar pula maka bahasa Indonesia akan tetap lestari sebagai bahasa yang memiliki kepribadian dan citra yang tinggi dan akan selamanya mengakar kuat sebagai bahasa pemersatu bangsa dan negara yang kita cintai ini.

 DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono
Tarigan, Henry Guntur, Tarigan, Jago. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Selasa, 07 Februari 2012

ANALISIS TIPE KALIMAT LENGKAP SEBUAH TAJUK RENCANA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa merupakan hal penting bagi manusia. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai hal. Manusia tidak dapat berhubungan satu sama lain bila tidak ada bahasa. Manusia akan sulit mengutarakan keberadaannya bila tidak ada bahasa. Dengan kata lain, bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan sosial antar manusia. Mengingat begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia, maka perhatian terhadap bahasa, terutama Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa perlu ditumbuhkembangkan.
Bahasa Indonesia, sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, berkedudukan sebagai bahasa nasional dan berfungsi sebagai lambnag kebanggaan kebangsaan, lambang identitas nasional, pemersatu bangsa dan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 sebagai bahasa negara yang berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam dunia pendidikan (Arifin dan Tasai, 2002:10). Selanjutnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara juga memiliki 3 fungsi yakni sebagai bahasa media massa, pendukung sastra Indonesia dan pemerkaya bahasa dan sastra daerah (Alwi, 2003: 232).
Bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia bukan hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, melainkan juga sebagai lambang identitas bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia harus terus dilakukan secara berkesinambungan di segala lapisan masyarakat Indonesia.
Di Indonesia, dan di negara-negara berkembang lainnya, media massa tidak saja berpengaruh dalam penyebaran bahasa nasional, tetapi juga sangat berpengaruh dalam penentuan bentuk bahasa sehingga bahasa tersebut diterima oleh seluruh masyarakat. Dengan kata lain, peranan media massa memegang peranan penting dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa (Moeliono dalam Muhyidin, 2008).
Peran wartawan sebagai pengguna bahasa jurnalistik sangat penting dalam penyebarluasan bahasa. Tetapi, kadang wartawan menggunakan bahasa yang salah dalam menyampaikan inspirasinya. Baik dalam tata wacana maupun dalam tata kalimat.
Dalam makalah ini penulis akan menganalisis kalimat yang digunakan dalam Tajuk Rencana surat kabar Kompas yang terbit hari Senin tanggal 6 Oktober 2008 berdasarkan tipe-tipe kalimat lengkap dalam Bahasa Indonesia.
B.  Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka batasan masalah  dalam  makalah ini adalah “Tipe kalimat apa yang digunakan para jurnalis dalam meyusun wacana di surat kabar”.

C. Tujuan
Menganalisis kalimat-kalimat dalam sebuah Tajuk Rencana di Surat Kabar Pikiran Rakyat berdasarkan tipenya.
D. Manfaat
1.   Bagi Institusi Pendidikan
Hasil analisis ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk pengembangan keilmuan dan bahan pertimbangan dimasa yang akan datang jika akan dilakukan analisis dengan topik yang sama.
2.   Bagi Tenaga Pendidikan
Diharapkan dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan pengembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3.   Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar dari segi strutur dan tutur..

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Pengertian
1.   Analisis
Analisis adalah Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya) (KBBI, 2002).
2.   Kalimat
Untuk lebih memahami lebih dalam mengenai kalimat, berikut penulis kemukakan beberapa pendapat para ahli linguistik mengenai kalimat. Menurut Hockett (dalam Suhardi, 2008 : 4) menyatakan bahwa kalimat adalah bentuk gramatikal yang tidak menjadi bagian atau unsur dari bentuk gramatikal yang lebih besar. Sementara itu, Cook (dalam Suhardi, 2008 : 4) mengunkapkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif telah dapat berdiri sendiri yang berpola intonasi akhir dan biasanya berupa klausa, senada dengan pendapat tersebut, Kridalaksana (2008 :103) mengemukakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara aktual maupun potensional terdiri dari klausa. Ramlan (2005 : 22) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kalimat adalah satuan gramati yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Pendapat lain dikemukakan Kentjono (dalam Suhardi, 2008 :4) mengemukakan bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang dibentuk oleh unsur dasar yang biasanya berupa klausa, partikel penghubung (jika ada), dan intonasi final. Terakhir Suhardi (dalam Suhardi, 2008 : 4) menyatakan bahwa kalimat adalah bentuk satuan gramatik (bisa berupa kata, frasa, atau klausa) yang diakhiri intonasi final. Kerraf (1988 : 42) menyebutkan bahwa kalimat  efektif adalah kalimat atau bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik. Sususnan kalimat yang efektif itu didukung oleh 1) kesepadanan, anatara struktur bahasa dan cara atau jalan pikiran yang logis dan masuk akal, 2) keparalelan atau paralelisme bentuk bahasa yang dipakai untuk tujuan-tujuan efektivitas tertentu, 3) ketegasan dalam memumpunkan pikiran utama, 4) kehematan dalam pilihan kata atau penyusunan pikiran kadang kala bertumpuk-tumpuk dalam satu kalimat, dan 5) kevariasian dalam penyusunan kalimat,seperti anatar kalimat panjang dan pendek, antara kalimat induk dan klausa tanbebas.
3.   Tipe Kalimat  
Tipe kalimat adalah jenis atau corak kalimat dalam bahasa Indonesia yang dianggap memiliki kemiripan struktural (KBBI, 2002).

B.  Tipe-Tipe Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Menurut Suhardi (2008 : 4), tipe-tipe kalimat (lengkap) Bahasa Indonesia ada delapan macam yaitu :
1)   Kalimat  dengan tipe SP (Subyek Predikat)
Kalimat lengkap yang hanya terdiri dari S dan P saja. Kalimat ini biasa disebut asebagai kalimat aktif intransitif karena predikatnya tidak memerlukan objek.
Contoh:  Amir sedang mandi.
Amir sebagai subjek dan sedang mandi sebagai predikat.
2)   Kalimat  dengan tipe SPO (Subyek Predikat dan Objek)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P dan O. Kalimat ini disebut juga kalimat aktif transitif karena predikatnya memerlukan objek. 
Contoh : Andi memukul kucing.
Andi sebagai Subjek  memukul sebagai predikat  dan kucing sebagai objek.
3)   Kalimat dengan tipe SPPel (Subjek Predikat dan Pelengkap)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P dan Pelengkap. 
Contoh : Rumahku berdinding bilik.
Rumahku sebagai Subjek, berdinding sebagai predikat dan bilik sebagai Pelengkap.
4)   Kalimat dengan tipe SPK (Subjek Predikat dan Keterangan)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P dan Keterangan. 
Contoh : Kecelakaan itu terjadi di Jalan Tol Ciawi.
Kecelakaan itu sebagai Subjek, terjadi sebagai predikat  dan di Jalan Tol Ciawi sebagai Keterangan.
5)      Kalimat dengan tipe SPOPel (Subjek Predikat Objek dan Pelengkap)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P, O dan Pelengkap. 
Contoh : Andi membuatkan temannya layang-layang.
Andi sebagai Subjek, membuatkan sebagai predikat, temannya sebagai Objek dan layang-layang sebagai Pelengkap.
6)   Kalimat dengan tipe SPOK (Subjek Predikat Pbjek dan Keterangan)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P, O dan Keterangan. 
Contoh : Dia telah menjelaskan hal itu di sekolah.
Dia sebagai Subjek, telah menjelaskan sebagai predikat hal itu sebagai Objek dan di sekolah sebagai Keterangan .
7)   Kalimat dengan tipe SPPelK (Subjek Predikat Pelengkap dan Keterangan)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P, Pelengkap dan Keterangan. Contoh : Mereka akan berbelanja alat olah raga di koperasi.
Mereka sebagai Subjek, akan berbelanja sebagai predikat, alat olah raga sebagai Pelengkap dan di koperasi  sebagai Keterangan.
8)   Kalimat dengan tipe SPOPelK (Subjek Predikat Pelengkap dan Keterangan)
Kalimat lengkap yang terdiri dari S, P, O, Pelengkap dan Keterangan.
Contoh : Pak Rudi membuatkan anaknya sebuah mainan di pinggir rumahnya.
Pak Rudi sebagai Subjek, membuatkan sebagai predikat, anaknya  sebagai Objek, sebuah mainan sebagai Pelengkap dan di pinggir rumahnya  sebagai Keterangan.

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

Dalam bab ini penulis mencoba menganalisis kalimat-kalimat yang terdapat dalam kolom Tajuk Rencana yang berjudul “Kemiskinan dan Terorisme” pada Surat Kabar Harian Kompas edisi hari Senin tanggal 6 Oktober 2008 sebagai berikut :
a.   Kalimat ke-1 
................ kedua pemimpin dua negara bertetangga itu bersepakat untuk memerangi terorisme.
Analisis kalimat
kedua pemimpin dua negara bertetangga itu à Subjek
bersepakat untuk memerangi à Predikat
terorisme à Objek
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPO
b.   Kalimat ke-2 
................ Pakistan menghadapi kelompok bersenjata di perbatasan kedua negara.
Analisis kalimat
pakistan à Subjek
menghadapi à Predikat
kelompok bersenjata à Objek
di perbatasan kedua negara à Keterangan
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPOK
c.   Kalimat ke-3 
................ PBB sendiri belum mampu membuat rumusan ........................
Analisis kalimat
PBB sendiri à Subjek
belum mampu membuat à Predikat
rumusan à Objek
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPO
d.   Kalimat ke-4 
Akibatnya adalah belum ada konvensi global mengenai terorisme internasional.
Analisis kalimat
Akibatnya belum ada konvensi global à Subjek
mengenai à Predikat
terorisme internasional à Pelengkap
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPPel
e.   Kalimat ke-5 
Salah satu langkah ................ adalah menghapus kemiskinan.
Analisis kalimat
Salah satu langkah à Subjek
menghapus à Predikat
kemiskinan à Objek
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPO
f.    Kalimat ke-6 
............kemiskinan menjadi sasaran empuk bagi bertumbuhsuburnya terorisme.
Analisis kalimat
kemiskinan  à Subjek
menjadi sasaran empuk à Predikat
bagi bertumbuhsuburnya terorisme à Keterangan
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPK
g.   Kalimat ke-7 
Disanalah para teroris menyebarkan pengaruhnya.
Analisis kalimat
disanalah  à Keterangan
para teroris à Subjek
menyebarkan à Predikat
pengaruhnya à Objek
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) KSPO/SPOK
h.   Kalimat ke-8 
Dulu, kondisi seperti itu menjadi lahan empuk bagi berkembang biaknya komunisme.
Analisis kalimat
dulu  à Keterangan
kondisi seperti itu à Subjek
menjadi à Predikat
lahan empuk à Pelengkap
bagi berkembang biaknya komunisme à Keterangan
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) KSPPel/SPPelK.
i.    Kalimat ke-9 
................ kemakmuran merupakan salah satu faktor bagi terciptanya stabilitas politik.................................
Analisis kalimat
kemakmuran  à Subjek
merupakan à Predikat
salah satu faktor à Pelengkap
bagi terciptanya stabilitas politik à Keterangan
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPPelK
j.    Kalimat ke-10 
Mereka bersatu melawan terorisme
Analisis kalimat
mereka bersatu à Subjek
melawan à Predikat
terorisme à Objek
Kalimat tersebut memiliki tipe kalimat (lengkap) SPO
Semua kalimat yang dianalisis penulis dari Tajuk Rencana tersebut memiliki tipe kalimat sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan tentang tipe kalimat dalam bahasa Indonesia.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil analisis tipe-tipe kalimat pada Tajuk Rencana sebuah harian surat kabar, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :
1.   Kalimat-kalimat dalam tajuk rencana tersebut berdasarkan tipe kalimatnya sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan.  
2.   Tipe kalimat yang digunakan dalam tajuk rencana tersebut adalah SPO, SPOK. SPPel dan SPPelK.
3.   Jenis kalimat yang digunakan semuanya kalimat majemuk.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah :
1.   Bagi Guru dan Siswa
Adanya kesungguhan dalam Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia terutama pembelajaran kalimat
2.   Bagi Jurnalis.
Para Jurnalis harus menguasai kaidah-kaidah bahasa terutama bahasa tulis yang benar karena hasil tulisannya memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat.

3.   Bagi Masyarakat.
Masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan berbahasa yang baik agar tidak mudah terpengaruh dan dapat memilih serta memilah bahasa yang baik dan salah.

  

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta : Balai Pustaka.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.2002. Jakarta : Balai Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan. 2005. Ilmu  Bahasa Indonesia SINTAKSIS. Yogyakarta: CV. Karyono
Moeliono, M. Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.
Muhyidin, Asep. 2008. Problematik Penggunaan Prefiks Meng-di Surat Kabar, dalam Anwar Efendi (eds) Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta : Tiara Wacana
Parera, Jos Daniel. 1988. Belajar Mengemukakan Pendapat Standar Standar, Logis, Pragmatik. Akarta : Penerbit Erlangga..
Suhardi. 2008. “Materi Kuliah Pendalaman Bahasa Indonesia” Universitas Negeri Yogyakarta. Tidak diterbitkan.